Mudahnya Aksesibilitas Web

Noted: Sunday, August 22, 2010 at 09:17:22. Words count: 389.
Last updated: Monday, August 30, 2010 at 11:02:31.

Konsep aksesibilitas situs web atau blog sederhana sekali. Sulit? Tidak. Hanya butuh jujur, ikhlas, dan etika. Mudah bukan? Jujur menyajikan konten web tanpa bermaksud mengecoh pihak lain. Ikhlas mengakui kekurangan dan kelebihan masing-masing pihak. Jangan lupakan etika. Banyak tautan tersebar di konten ini untuk mengurangi komentar 'dejavu' saya. Semuanya menuju ke situs tidak penting ini, unessential side.

Kejujuran

Menulis weblog cara jujur dan sehat tidaklah sulit. Asal tidak bermaksud mengecoh pengguna. Misalnya membuat konten otomatis cuplikan situs lain tapi tautan sumber ditiadakan. Semuanya demi keuntungan pribadi semata dan melegalkan segala upaya mengelabui pihak lain?

Kapan kejujuran itu bisa dikatakan terwujud? Misalnya saat para pengguna manusia bisa menikmati tautan/pranala konten web tanpa 'status bar'. Intinya, pengguna disajikan teks sesuai konteks di sekitar tautan atau langsung saja gunakan tautan yang deskriptif sehingga teks 'anchor' jelas menuju ke mana. Tidak perlu bernyanyi "…♫…mau dibawa ke mana…♫…" Tidak perlu repot berpikir dan curiga akan tertipu.

Keikhlasan

Manusia tidak sempurna. Pengakses web di Internet juga tidak semuanya berkemampuan seperti manusia normal. Minoritas diantaranya, sekitar 10% dari jumlah populasi di tiap negara, mengalami kesulitan mengakses web.

Dalam bahasa sederhana, aksesibilitas web frontal terasa mengena. Meminimalisir penghalang akses akan memudahkan jalur komunikasi. Sehingga ada alasan menata situs berselera minoritas ini sesuai kemampuan pengelola atau penyajinya. Tidak dianjurkan hanya menyajikan teks tanpa gambar atau berkas multimedia lain yang memudahkan pemahaman konten. Bersiap jugalah untuk ikhlas menerima kritik aksesibilitas web dari para pengguna.

Menjunjung etika

Membiarkan 'copy-paste' tanpa etika selalu memakan korban baru? Mengapa tidak jujur saja? Jangan mengakui karya orang lain sebagai buatan sendiri. Cantumkan saja sumber yang valid dan mudah diklik. Bukankah itu lebih damai dunia akhirat?

Saat 'trekking' komentar blog, tidak semua narablog menyukai komentar asal lewat. Ada cara untuk menjadi pengomentar blog yang mendukung aksesibilitas web. Membalas komentar dengan santun dan mudah diakses walau diikuti via surel sekalipun ada tekniknya. Etika memakai identitas asli–bukan judul blog sepanjang kereta api itu–dan huruf kapital di awal kalimat, cukup sederhana tapi mudah dilakukan.

Simpulan

Jika sudah bisa menyadari hak akses informasi adalah hak asasi, maka jangan lagi tanyakan alasan validasi HTML dan aksesibilitas web karena aksesibilitas itu untuk semua. Tidak ada yang dirugikan karena kemudahan akses bukan eksklusif untuk kalangan tertentu saja.

Tiap pengguna bisa mengevaluasi kondisi keteraksesan situsnya. Bisa dimulai dari tahap-tahap dasar meninjau aksesibilitas situs web.

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

One comment to "Mudahnya Aksesibilitas Web"

  1. Menghalangi Pengomentar? – Bhyllabus

    […] dari situs tidak ber­guna ini, silakan menyimak tulisan ‘Halaman Pranala Keluar’. Ingat, kemudahan aksesibilitas web juga memiliki unsur […]