Aksesibilitas Web Frontal

Noted: Sunday, April 18, 2010 at 16:24:47. Words count: 362.
Last updated: Friday, July 30, 2010 at 14:04:25.

Awalnya saya meremehkan orang-orang yang membahas dan mempermasalahkan kemudahan akses dunia Web. Buat apa repot-repot memenuhi unsur teknis itu. Sudah sulit, hasilnya pun tidak seberapa. Mana mereka itu kebanyakan kolot, konservatif, seperti tidak mau menghadapi perubahan dan kecanggihan teknologi saat ini. Bahasanya tinggi-tinggi pula.

Sampai suatu ketika, sebagai pengguna Internet dengan kemampuan koneksi yang terbatas, saya terbentur masalah. Pun terpapar dengan pelbagai pandangan dan pendapat. Ingin rasanya berkata seperti di bawah ini (sambil bercermin dan menunjuk diri sendiri):

  1. Koneksi Internet lambat sialan!
  2. Tulisan kamu sebenarnya menarik. Tapi, desain kamu seperti membawa saya kembali ke zaman batu.
  3. Konten kamu sebenarnya bermutu, tapi teks putih di atas latar hitam itu menyakitkan mataku.
  4. Huruf yang kamu pakai terlalu kecil. Saya harus mengambil kaca pembesar untuk membacanya.
  5. Kok hanya teks? Membosankan. Tidak ada gambar p0rnonya sama sekali!
  6. Walaupun cacat, saya punya hak mengakses situs publik kamu kan? Kalo ngga, ya pasang aja peringatan: Cacat dilarang masuk!
  7. Kamu menulis untuk Google atau manusianya? Kok yang ada hanya kata kunci pelbagai ukuran dan warna?
  8. Kenapa link-nya dipendekin dan disamarin? Takut ketahuan ya?
  9. Kamu ingin saya membaca postingan atau mengeklik blink-blink, kerlap-kerlip, dan teks yang tak kunjung lelah berlari itu?
  10. Kamu yakin saya bisa melihat konten kamu dengan mata normal?
  11. Kaca pembesar saya tidak bisa membantu. Warna teksnya terlalu sulit dibaca.
  12. Pernah merasakan susahnya penyandang buntung tangan dan kaki memakai mouse demi membuka jendela dunia via Internet?
  13. Warna biru di Web kamu terlihat sebagai hijau. Karena saya buta warna. Asal kamu tahu itu!
  14. Saya tidak bisa melihat sama sekali. Buta mata total. Kamu ingin mencoba merasakan seperti saya? Mengakses Web kamu itu susah tau!
  15. Saya lansia. Susah sekali membaca Web berlatar gelap kamu. Bukankah kamu juga nanti menjadi lansia?
  16. Bahasa kamu sulit dimengerti. Bisa dibuat simpel ngga sih? Sok tinggi lo!
  17. Saya harus membuka semua link itu di jendela baru? Memangnya RAM saya segudang!
  18. …isi sendiri lah…

Mengapa Google pun menyarankan untuk membuat konten demi manusia? Jika semua konten dibuat semata untuk mesin Google, manusia merasa dirugikan karena sering terkecoh, Google yang salah?

Yang lain mungkin menulis dengan judul frontal 10 HTML Tag Crimes You Really Shouldn’t Commit dan 10 Usability Crimes You Really Shouldn’t Commit (Line25.com).

Menurut saya, itu bahasa frontal yang sangat sederhana untuk menyampaikan makna aksesibilitas Web. Lebay ah

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

7 comments to "Aksesibilitas Web Frontal"

  1. Harry

    He he.
    Beneran ya, cuma didepan cermin saja !. Jangan kasih kuliah aksesibilitas web didepan pasienmu ya, bisa pingsan semuanya nanti.

    Apa memang begitu kalau lagi galak ? :) jadi takut.

  2. dani

    Harry,
    bukan galak sih Pakdhe. Bukannya kata-kata penulis luar itu lebih frontal. Sampai disebut kriminalitas. :P

  3. Harry

    Iya juga sich. Aku kira cuma bisa nulis yang kalem-kalem saja. Maka kaget begitu baca tulisan ‘bocah bagus’ satu ini. :)

  4. dani

    Harry,
    ini kan protes ke diri sendiri Pakdhe. Mo kasar kayak gemana ya terserah saya. :D

  5. Contoh Aksesibilitas Blog – Unessential Weblog

    […] AKsesibilitas Web frontal. Polos dan tanpa basa-basi. […]

  6. Aksesibilitas itu untuk Semua – Unessential Weblog

    […] apa saja, kapan saja? Atau mesti dipasangi rambu: Maaf, buta dilarang masuk! Silakan baca juga hal frontal lainnya yang pernah tercatat di Dani Iswara […]

  7. Belajar dari Sahabat | blog Rudy Azhar

    […] Saya banyak belajar dari Bli Dani Iswara ten­tang ini mulai dari Aksesibilitas itu untuk Semua, Aksesibitas Web Fron­tal & masih banyak lagi yang lain, silahkan anda telusuri saja Archive blog­nya. Dari Ris­maka […]