Categories
Web Accessibility

Pengomentar Blog Mendukung Aksesibilitas Web

Diperbarui: Minggu, 13 Juni 2010
Bagi di FB | Cuitkan

Ya, siapa pun pengguna Web bisa terlibat mendukung hal aksesibilitas ini. Bukan hanya desainer, pengembang, dan pemrogram aplikasi Web. Tidak pula harus memahami setiap poin teknik rekomendasi atau Panduan Aksesibilitas Konten Web (WCAG 2.0). Sebagai pengomentar blog, ada beberapa hal kecil dan mudah yang bisa diterapkan untuk membantu aksesibilitas.

Hal-hal di bawah ini terkait dengan konten komentar atau tanggapan yang ditulis oleh pengomentar di suatu blog:

  1. Identitas pengomentar yang unik dan tidak mengecoh.
    Seperti tercatat di tulisan sebelumnya tentang Teks anchor seragam untuk alamat Web yang sama (Dani Iswara .com).
  2. Tanggapan terhadap siapa/apa.
    Bayangkan yang mengikuti diskusi mungkin berlangganan via surat elektronik atau surel. Dan tidak mengikuti dari awal diskusi. Saat menerima sepenggal tanggapan via surel, alur diskusi masih bisa dicerna jika jelas ditujukan pada (nama) pengomentar dan topik yang mana. Tanpa harus menyajikan kuotasi, cukup menyisipkan kalimat yang menjadi fokus tanggapan, alur diskusi semestinya akan relatif lebih mudah diikuti.
  3. Huruf kapital di awal kalimat.
    Akan memudahkan menemukan awal baris kalimat baru. Lebih mudah untuk 'scanning' dan membaca cepat. Sayangnya, ada kolom komentar yang mematikan fungsi huruf kapital ini.
  4. Tanda baca.
    Membaca rentetan komentar tanpa titik? Bayangkan pemakai pembaca layar komputer atau 'screen reader' yang mendengarkan kalimat tanpa titik dan koma.
  5. Emotikon.
    Kadang diperlukan sebagai pemanis. Tapi entah bagaimana mesin 'screen reader' akan mengeja kode emotikon.
  6. Singkatan.
    Bagaimana pembaca layar komputer membaca singkatan berikut: yg, tdk, main2, bkn, dan sejenisnya? Mesin 'screen reader' saat ini tetap membutuhkan bantuan elemen abbr.
  7. Urutan item.
    Kebanyakan kolom komentar blog menonaktifkan elemen-elemen (X)HTML untuk fungsi ol, ul, dan li. Sebagai gantinya, pengomentar biasa dengan kuasa non-administrator bisa memisahkan tiap topik tanggapan dengan cara manual. Bisa dengan penomoran manual atau cukup dengan penyajian per blok paragraf.
  8. Baca kembali komentar.
    Untuk menghindari susunan kalimat yang bermakna ganda atau bahkan salah. Jangan selalu berasumsi bahwa semua pengguna akan memahami apa yang ingin kita sampaikan sesungguhnya.

Hal yang sederhana itu pun ternyata tidak mudah. Tapi, benar, semua bisa berperan mendukung aksesibilitas Web.

15 replies on “Pengomentar Blog Mendukung Aksesibilitas Web”

Saya memilih yang nomor dua dulu,… Apakah ada yang punya persepsi bahwa kalimat, "Notify followup comments via e-mail are (is) yours" setelah isian komentar blog adalah untuk kepentingan pengelola ya ? Padahal fasilitas tersebut khan disediakan untuk pengunjung. [udah, yang ini tidak usah dipanjangkan saja. Toh sudah terpaksa turun dari tempat tidur khan ?]
Sedangkan untuk yang nomor delapan,… Sebagai pengomentar yang kadang menulis terlalu semangat mungkin poin tersebut adalah kritik untuk saya :)

Pakde Harry,
maksudnya pemberitahuan komentar via surel itu untuk kepentingan pengelola, bagaimana ya jelasnya? Sepertinya menarik. Karena Pakde selalu punya sudut pandang yang agak berbeda dari lainnya. :)

Tempat tidur dan laptop sama-sama di bawah. :P

Tanggapan untuk nomor 2 dulu(ngikut pak de),
Bagaimana dengan fitur reply(komentar bertingkat) yang hanya mengirim balasan terhadap komentar kita sendiri? Bukankah lebih efisien?

Sayang sistem komentar Textpattern hanya mengijinkan textile dan semua markah XHTML menjadi tidak berlaku. Memang cukup menjadi masalah bagi saya, terlebih plugin textile editor yang ada tidak valid XHTML 1.0 Strict :(
Sering sekali saya lihat pengomentar yang terkecoh karena tidak dapat memasukkan markah XHTML, mau tidak mau ini menjadi pekerjaan rumah bagi saya..
Sepertinya bagi pengguna WordPress ada sebuah plugin menarik, yaitu memperbolehkan user mengedit komentarnya dalam waktu tertentu setelah user mengirim komentarnya. Sangat bermanfaat :)

ganda,
untuk fitur langganan komentar, menurut saya, lebih enak pilihan diserahkan ke pengguna. Mau langganan semua komentar, hanya balasan komentarnya sendiri, bolak-balik manual, atau lupakan saja. Plugin mana yang terbaik ya?

Hmm, jadi bingung mau komentar apa. Tapi pengomentar blog menurut saya bisa lebih memperkaya konten yang telah dibacanya. Dan seringkali apa yang tertulis pada komentar malah lebih menarik untuk disimak :) Apa itu ada hubungan dengan aksesibilitas atau tidak ya? Atau sepertinya itu lebih kepada usability.

ardianzzz,
mengenai fitur komentar Textpattern, sepertinya memang perlu memeras keringat lebih banyak. Selamat. :)

Bang Dani,
Mungkin enaknya di kombinasikan bang. Fitur langganan otomatis yang akan dikirimkan jika komentar kita di balas, dan fitur langganan seluruh komentar, jika penggunanya menginginkan. :D

ganda,
yang komentar sekadar lewat mungkin tidak ingin terganggu dengan notifikasi komentar otomatis tersebut. Intinya, tetap ada hak untuk tidak berlangganan. Tapi ada pilihan untuk berlangganan yang mana. :)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.