Meninjau Aksesibilitas Situs Web

Noted: Friday, July 9, 2010 at 13:30:54. Words count: 552.
Last updated: Tuesday, July 13, 2010 at 13:21:50.

Dokumen W3C berjudul Preliminary Review of Web Sites for Accessibility menyebutkan 5 langkah berikut:

  1. Select a representative page sample.
  2. Examine pages using graphical browsers.
  3. Examine pages using specialized browsers.
  4. Use automated Web accessibility evaluation tools.
  5. Summarize obtained results.

Dalam praktiknya, lebih mudah menerapkan konsep aksesibilitas atau keteraksesan ini sejak awal desain dirancang. Berbasis standar Web–pisahkan antara konten/XHTML dan CSS, memenuhi semantik, lalu beri sentuhan yang lebih universal dengan konsep kemudahan akses ('accessibility' dan 'usability').

Saya mengadopsi proses tinjauan menjadi seperti di bawah ini:

1. Menentukan dan menyiapkan halaman yang akan diuji

Setidaknya semua elemen presentasi dan XHTML terwakili. Misalnya halaman depan, halaman statis seperti profil, kontak, atau arsip. Lalu halaman dinamis seperti halaman tunggal yang memuat artikel atau 'posting'. Untuk semua elemen presentasi–sekaligus menguji CSS, saya konsisten menerapkan sesuai Semantic XHTML Format Reference (Dani Iswara .com).

2. Uji halaman Web dengan peramban berbasis grafis

Logisnya, cek di pelbagai peramban Web populer sesuai target pengguna atau statistik pengunjung yang ada. Misalnya peramban yang bermesin Presto (Opera), Webkit (Safari, Google Chrome, Iron, Midori), Gecko (Firefox, Flock, Iceweasel), Trident (Internet Explorer), kombinasi beberapa mesin (Maxthon).

Manfaatkan fitur dan setelan di tiap peramban dan sistem operasi. Nonaktifkan tampilan gambar, 'javascript', plugin multimedia, zoom ukuran set huruf, ganti ukuran jendela peramban, ganti resolusi monitor, cek pratinjau versi cetak, gunakan hanya papan ketik–tanpa tetikus–untuk navigasi. Apa lagi yang diperiksa? Hasil apa yang direkomendasikan? Saya mencoba menyusunnya di Evaluasi Weblog Mandiri (Dani Iswara .com).

3. Uji halaman Web dengan peramban khusus

Dalam pengertian saya, alat bantu teknologi ini termasuk 'screen reader', 'voice browser', peramban Web berbasis teks (Lynx, Links, Elinks), dan peramban 'mobile'. Beberapa emulator yang bisa dicoba daring juga makin beragam jenisnya. Apalagi jika ada peramban 'mobile' terintegrasi dengan fitur penunjang aksesibilitas seperti Braille e-Reader yang tengah dikembangkan.

Permasalahan yang mesti dipecahkan dengan tes ini, misalnya, ada/tidaknya kehilangan informasi bagi penyandang disabilitas, cukup/tidaknya informasi dimengerti sesuai target pengguna.

4. Gunakan peranti evaluasi aksesibilitas semi otomatis

Disarankan setidaknya memakai 2 peranti berbeda. Saya merekomendasikan ATRC Acessibility Checker dari Universitas Toronto-Kanada dan WAVE dari WebAIM.org. Dengan ATRC Acessibility Checker ada pilihan untuk menguji standar aksesibilitas beberapa negara. Misalnya Section 508 (Amerika Serikat), BITV (Jerman), Stanca Act (Italia), WCAG 1.0, dan WCAG 2.0 dari Konsorsium WWW. Tentu tidak cukup hanya dengan mesin semi otomatis saja. Pengujian manual dengan orang coba sesuai target pengunjung, sangat disarankan.

5. Meringkas hasil

Beberapa hasil cek peranti semi otomatis mungkin berbeda. Tergantung standar yang dipakai dan level kesesuaiannya/'conformance'. Beberapa rekomendasi di WCAG 1.0 sudah ada yang berubah di WCAG 2.0. Sejalan dengan kecanggihan alat bantu teknologi yang makin berkembang. Beberapa pakar dan konsultan aksesibilitas Web mungkin berpendapat sedikit berbeda dengan beberapa hasil tes semi otomatis. Itu semua bagian dari proses Belajar Web Accessibility (Dani Iswara .com). Semuanya tidaklah kaku adanya seperti yang dibayangkan. Selalu ada alasan dibalik konsep desain antarmuka.

Pertimbangkan memakai elemen yang aksesibel untuk di masa depan. Daripada harus bongkar pasang di kemudian hari. Misalnya strong atau b, em atau i, font style atau CSS, strong untuk tanya jawab atau dldtdd.

Jika perlu, setelah perbaikan, boleh mencantumkan pernyataan aksesibilitas Web (Dani Iswara .com).

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

7 comments to "Meninjau Aksesibilitas Situs Web"

  1. ardianzzzz

    Keputusan halaman tersebut atau tidak dapat dinilai dari “Jumlah informasi yang hilang” ketika diakses menggunakan peramban tertentu dalam kondisi tertentu pula. Mungkin nilainya akan sangat kualitatif (seperti uji sensoris saja hehe).

    Sudah selayaknya pengujian-pengujian semacam ini dimasukkan dalam proses rancang bangun web. Tujuannya jelas, untuk mencapai tingkat kualitas yang diinginkan. Tetapi jika konteksnya masih sebatas “blog pribadi” beberapa mugnkin berpikir hal tersebut “terlalu berlebihan”. :)

  2. dani

    ardianzzz,
    kehilangan informasi itu misalnya:
    ada halaman Web dengan gambar kue ulang tahun berhiaskan lilin angka 17. Teks alternatif atau atribut alt tidak menyebut angka tujuh belas. Di konten juga tidak disebut angka tersebut.
    Saat diajukan pertanyaan: “Ulang tahun keberapa?”
    Tidak semua pengguna bisa menjawabnya.

  3. Rudy Azhar

    kalau disimak prosesnya agak ribet ya Bli? hanya sedikit proses tinjauan yang saya terapkan pada blog saya.
    Saya masih awam tentang hal-hal diatas tapi saya adalah pembelajar, tidak ada salahnya saya pelajari satu persatu walau memakan proses yang agak panjang.

  4. dani

    Rudy Azhar,
    bagi sebagian pengguna disabilitas koneksi Internet, setidaknya saya sendiri, proses tersebut mungkin malah sudah jadi kebiasaan. Saya ingat salah satu awalnya adalah karena peristiwa yang mengagetkan saat mengakses Web (Dani Iswara .Net, 2008). :)

  5. iskandaria

    Pengalaman saya, tampilan situs web pada monitor CRT (tabung), LCD kecil, LCD lebar, dan pada notebook ternyata agak beda. Kadang bagus di satu jenis monitor, tapi tidak pada jenis lainnya. Tingkat ketebalan font kadang juga berbeda antar jenis monitor. Termasuk keterbacaan konten. Entah masalah merk, setelan pada monitor, atau permasalahan pada coding situs webnya. Yang jelas, sangat kompleks karena melibatkan banyak aspek.

    Saya setuju, kita harus mengecek tampilan web/situs kita pada berbagai perangkat dan berbagai kondisi. Dari situ, kita bisa optimalkan agar lebih luas dalam merangkul pengguna/pengunjung.

  6. dani

    iskandaria,
    untuk tampilan Web di monitor layar komputer yang berbeda, karakteristik ‘tone’ warna dan setelan anti alias mungkin jadi tersangkanya. ‘Web safe color’ juga masih membantu.
    Dengan asumsi setelan set huruf/’font’ di CSS sudah sesuai.

  7. Understanding Blind Users – Unessential Weblog

    […] the testing and conformance levels of accessibility, semi-automated checkers and expert reviews (Dani Iswara .com) are not enough. User testing is more […]