Kategori
GNU/Linux

Memilih Distro Linux dan BSD Independen

Masih “distro-hopping”? Doyan coba-coba dan gonta-ganti distribusi Linux? Belum nemu yang pas di hati? Kebetulan di dunia GNU/Linux ada berlimpah pilihan sistem operasi yang bisa dicoba. Buat para “distro-hopper” seperti saya, yuk berbagi informasi.

Last updated on 9 Maret 2020 by Dani Iswara

“Linux” (dari GNU/Linux) yang kita maksud di sini adalah sebagai sebuah sistem operasi (SO). Linux sendiri sebenarnya adalah sebuah kernel. Linux plus aplikasi berbasis GNU jadilah sebuah sistem operasi utuh. Untuk memudahkan menyebutnya sebagai sebuah SO, selanjutnya akan kita sebut “Linux” saja. Pada dasarnya memilih distro Linux (dan sistem operasi BSD–Berkeley System Distribution) cukup hanya berpatokan pada pola pikir seperti berikut. Sesuaikan dengan selera, kondisi dan kebutuhan masing-masing pengguna.

  • Spesifikasi komputer. Bisa sih dipasang di ‘mesin’ lain seperti ponsel dan robot. Di sini kita fokus di komputer PC dan laptop ya. Ada distro yang bisa multiplatform untuk mesin berarsitektur 32 dan 64-bit. Belakangan dukungan untuk mesin 32-bit mulai terbatas. Sebaliknya dukungan untuk mesin 64-bit dan RAM lebih dari 2 GB makin bertambah.
  • Untuk kebutuhan khusus. Untuk desktop atau peladen/server? Ada distro yang memang fokus ke fungsi peladen dengan mengedepankan unsur keamanan dan kestabilan. Tetapi juga ada versi desktopnya yang dibuat semakin ramah pengguna. Mau fokus ke security networking, penetration testing, edukasi, kerjaan seni grafis multimedia, game, atau sekadar pengguna kasual biasa? Semuanya ada di Linux. Tiap distro standar sebenarnya bisa saja diubah sesuai kebutuhan penggunanya. Tetapi kalau ada distro yang dari bawaannya sudah lengkap peranti lunaknya untuk kebutuhan dimaksud, kenapa tidak?
  • Prinsip kode sumber bebas dan terbuka. Kebanyakan distro Linux hanya menyertakan kode sumber bebas dan terbuka di sistem operasi dan perangkat lunak yang terpasang. Sesuai prinsip GNU. Konsekuensinya, mungkin tidak semua perangkat keras (misal WiFi, printer, sound card, graphic card, touchpad) di PC dan laptop terdeteksi otomatis saat instal atau booting awal. Tetapi pengguna diberi kebebasan untuk menambahkan sendiri fitur non-free tersebut. Kadang provider atau vendor perangkat lunak proprietari sudah menyediakan driver terkait. Jadi, bukan distro Linux-nya yang belum support driver terbaru. Tetapi vendornya yang belum membuka kode sumber driver tertentu. Ujung-ujungnya duit nih…Di dunia open source, software dengan lisensi “free” dari GNU, mengizinkan penggunanya untuk memakai, menyalin, membagikan, mempelajari, mengubah, dan memperbaiki perangkat lunak tersebut.
  • Tampilan antarmuka. Pilih instalasi awal distro berbasis mode teks atau grafis? Pilih sistem manajemen instalasi paket berbasis teks atau grafis? Lebih pilih tampilan mentereng tetapi komputer jadi agak lambat atau tampilan sederhana tetapi mesin terasa jauh lebih gegas?
  • Desktop environment (DE) atau desktop manager (DM). Pilih lingkungan desktop yang banyak dipoles (misal KDE Plasma, GNOME 3) atau yang ringan (misal Openbox, Xfce, MATE) saja cukup? Kualitas komputer akan menentukan juga pilihan ini. Beberapa distro biasanya akan lebih menonjol dukungannya pada DE/DM bawaan.
  • Model rilis. Pilih yang fixed–instal/upgrade keseluruhan sistem operasi tiap sekian bulan sekali, semi rolling atau rolling release–rilis bergulir. Dengan pemutakhiran bergulir, pengguna bisa memperbarui sistem sedikit-sedikit tetapi mungkin saja berisiko kurang stabil. Lebih senang teknologi aplikasi terkini atau cukup dengan versi yang lebih lawas tetapi tetap stabil?
  • Kemudahan troubleshooting mandiri. Makin mainstream makin baik. Makin banyak dan aktif penggunanya, solusi jadi makin gampang dan cepat diperoleh.

Kembali ke selera dan kebutuhan.

Ubek-ubek distrowatch dot com. Pilih fitur pencarian distro. Cari semua sistem operasi/distro independen atau utama, yaitu distro induk yang kodenya dibangun dari awal, bukan turunan distro lainnya. Kalau ada pemutakhiran, itu berasal dari distronya sendiri. Kalau distro turunan kan adakalanya menunggu pembaruan distro induknya dulu. Dari hasil penelusuran, muncullah 62 distro yang dinyatakan masih aktif. Coba kita ulas 20 teratas secara singkat.

  1. Debian. Distro paling multiplatform. Komputer lawas non-64-bit masih didukung. Jumlah paket aplikasinya (.deb) juga sangat berlimpah. Paling banyak distro turunannya. Lumayan kolot untuk urusan kekinian. Tetapi itu membuatnya sebagai distro yang terkenal stabil. Biasanya versi stabil baru dirilis 2 tahun sekali.
  2. Solus. Hanya mendukung 64-bit. Rilis model bergulir. DE bawaannya yang bernama Budgie jadi solusi kalau pengguna menghindari GNOME dan KDE.
  3. Fedora. Proyek Fedora menjadi cikal bakal Red Hat, versi korporasinya. Paket aplikasinya (.rpmRed Hat Package Manager) juga hampir menyaingi jumlah paket berbasis Debian. Biasanya aplikasi non-free kebanyakan tersedia dalam bentuk berkas .deb dan .rpm.
  4. PCLinuxOS. Sistem manajemen paketnya ala “Synaptic” yang terinspirasi dari Debian tetapi memakai paket aplikasi .rpm. Init pakai SysV dengan model rilis semi rolling untuk versi yang stabil. Berusaha working out of the box seperti MX Linux.
  5. OpenSUSE. Versi komunitas dari SUSE Linux. Salah satu distro induk yang banyak dipoles. Bisa menjadi rilis bergulir dan fixed. Seperti halnya pengguna Fedora, pengguna openSUSE ada yang merasa sebagai beta-tester produk versi komersialnya.
  6. Arch Linux. Distro rilis bergulir yang termasuk paling cepat rilis update paket aplikasinya. Berbasis binari. Tidak seperti Gentoo yang instal paketnya dari kode sumber. Dokumentasinya lengkap menyaingi milik Gentoo. Berusaha bleeding edge dengan peranti lunak terkini tetapi tetap stabil.
  7. Puppy Linux. Salah satu distro mungil, ringan dan multifungsi yang cocok untuk live CD, live USB, atau instal permanen ke komputer. Uniknya, paket binarinya bisa dipilih mau yang kompatibel dengan Ubuntu atau Slackware. Coba juga distro KNOPPIX yang berbasis Debian.
  8. FreeBSD. Salah satu BSD-style yang multiplatform dan multifungsi. Memakai init RC. Menurut saya pribadi, distro ini lebih cocok untuk peladen saja. Seperti halnya openBSD dan NetBSD. Untuk BSD versi desktop lebih baik coba TrueOS (dulu PC-BSD) dan GhostBSD. Aplikasinya biasanya tidak selengkap Linux.
  9. ReactOS. Ini bukan Linux atau BSD. Berbasis arsitektur Windows NT. Pokoknya sistem operasi ini buat pengguna Windows supaya tidak pusing dengan kompatibilitas perangkat keras dan lunaknya. Tetap open source. Saat ini masih dalam versi alfa. Dengan tampilan dan kompatibilitas menyerupai Windows Server 2003.
  10. EasyOS. Masih eksperimental. Terinspirasi dari Puppy Linux.
  11. Slackware Linux. Generik, komplit, ‘jadul’, KDE. Salah satu distro Linux yang strukturnya masih tradisional UNIX. Old school style lah istilahnya. Cocok untuk yang serius belajar sistem Linux dari dasar.
  12. Mageia. Penerus mandrakelinux (Mandriva Linux) seperti halnya OpenMandriva. Masih punya versi 32-bit. Salah satu distro yang berkonsep working out of the box. Senada dengan PCLinuxOS dan OpenMandriva Lx. Mestinya semudah Ubuntu dan openSUSE.
  13. Void. Distro ini lumayan multiplatform dan rilis bergulir tetapi stabil. Tidak lagi pakai systemd tetapi runit yang lebih simpel penulisan kodenya. Cita rasa Arch + BSD. Kesan Pertama Distro Linux Void (daniiswara.com).
  14. Alpine Linux. Dari tag line-nya: “small, simple, secure” sudah bisa ditebak peruntukan distro ini. Berorientasi pada ringan dan aman untuk operasional peladen dan router.
  15. OpenMandriva Lx. Seramah pendahulunya, Mandriva. Kombinasi antara cita rasa Mandriva, ROSA (versi enterprise Linux Mandriva ala Rusia) dan dukungan komunitas.
  16. Gentoo Linux. Ini salah satu biangnya rilis bergulir. Mau dibikin sangat bleeding edge bisa. Paket aplikasi terbaru cepat tersedia. Secepat paket terkini di Fedora Rawhide. Kalau mau jadi spesialis compile paket dari source dengan penuh kesabaran, pilih Gentoo.
  17. KaOS. Terinspirasi dari Arch Linux (pakai pacman juga). Memakai desktop KDE beserta pustaka Qt-nya. Hanya tersedia untuk mesin 64-bit.
  18. Clear Linux. Untuk mesin 64-bit, rilis bergulir, memakai desktop bawaan GNOME. Masih memakai init systemd. Komputernya harus mendukung UEFI. Setahun terakhir makin positif perkembangannya dari komentar dan review yang ada.
  19. NixOS. Menawarkan sistem konfigurasi yang berbeda dari Linux kebanyakan. Pengelolaan paketnya dikumpulkan di direktori /nix/store. Bukan lagi di /bin, /sbin, /lib, dan /usr. Dekstop bawaan memakai KDE Plasma. Model rilis fixed. Masih memakai systemd seperti Linux umumnya.
  20. 4MLinux. Distro kecil dan ringan multifungsi seperti Puppy Linux. Dengan JWM (Joe’s Window Manager). Belakangan hanya mendukung 64-bit.

Dari deretan distro di atas, saya hanya pernah mencoba instal permanen Debian, Fedora, openSUSE, PCLinuxOS, FreeBSD, Slackware, Gentoo, Arch, Puppy Linux, dan sekarang sedang memakai Void Linux. Distro turunan yang pernah saya instal ke hard disk antara lain Ubuntu, Kubuntu, Xubuntu, MEPIS (sekarang MX Linux), Mint, Manjaro (turunan Arch), Sabayon (turunan Gentoo), dan Backtrack (sekarang Kali Linux). Akhirnya karena dukungan 32-bit mulai berkurang, Void Linux jadi pilihan terakhir saat ini.

Kalau ada kesempatan, saya tertarik mencoba Solus, NixOS dan PCLinuxOS (lagi). Akan lebih bagus lagi semisal muncul distro yang menggabungkan ketiganya plus init yang dipakai Void. Rilis bergulir, DE Budgie, sistem berkas baru ala NixOS, manajemen paket Synaptic dengan apt, paket .deb atau .rpm, dan pakai sistem init runit.

Satu tanggapan untuk “Memilih Distro Linux dan BSD Independen”

well done, menarik saya pribadi pakai void juga karena runit sangat simple, pernah mau coba freebsd cuma mirror list di indo sangat lambat, lagi tertarik sama nix os cuma masih bimbang karena masih pakai systemd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.