Kebergunaan Web & Jakob Nielsen

Noted: Sunday, August 29, 2010 at 02:51:17. Words count: 442.
Last updated: Tuesday, August 31, 2010 at 08:09:44.

Membicarakan Web usability atau kebergunaan Web tidak akan lepas dari uji coba pengguna, evaluasi, dan nama seorang Jakob Nielsen, PhD. Dalam bahasa awam saya, kebergunaan di dunia Web dan Internet terkait dengan cara penyajian konten Web agar mudah dipahami dan digunakan oleh para pengguna tertarget. Pengguna di sini lebih mengacu ke pengunjung normal kebanyakan. Belum termasuk para penyandang disabilitas yang lebih terakomodasi melalui konsep aksesibilitas Web.

Situs Dani Iswara .com hanya menyajikan tulisan kebergunaan Web dari sisi ‘best practice’, pengalaman pribadi, dan pendapat subjektif. Siapapun bisa menuliskan cerita tentang ‘usability’ situsnya masing-masing. Pelajari perilaku pengguna, temukan jawabannya.

Konsepnya relatif langgeng

Diakui atau tidak, banyak konsep yang termuat di Alertbox-nya Doktor Jakob Nielsen (useit.com) masih abadi hingga saat ini. Beberapa konsepnya tentang kesalahan umum desain Web, cara penulisan piramida terbaik, pentingnya kecepatan unduh, panduan desain halaman depan, dan mengurangi ‘bounce rates’ masih layak pakai.

Walau terkesan klasik, masih ada nilai kebenarannya. Beberapa konsepnya rutin diperbarui dengan riset terbaru. Tapi di dunia Web ini sebenarnya bukan hanya konsep beliau yang eksis. Sebuah upaya pemasaran yang berhasil?

Kontroversi

Ada beberapa bantahan terhadap Jakob Nielsen dan kiprahnya selama ini. Salah satunya bisa dilihat tulisan di blog experiencedynamics.blogs.com berjudul ‘How usable is Jakob Nielsen?‘ Bukan penyerangan terhadap individunya yang kita lihat, tapi konsep yang pernah disampaikannya. Jangan tiru hal buruk yang dilakukannya, tapi boleh turuti nasihat baiknya. Terdengar munafik? Tidak! Biasanya ada alasan logis di balik itu semua.

Pelbagai media massa memberi macam-macam gelar dan sebutan. Mulai dari yang serius hingga terkesan mengejek. Saya bukan penggemar beliau. Saat melihat situs useit.com kepunyaannya sangat minim grafis atau desain visual, tipografi, dan aksesibilitas, jangan kira situs itu tidak ‘usable’. Tidak menonjolkan desain visual tentu ada alasan tersendiri. Hanya menampilkan teks saja sebenarnya juga tidak sesuai dengan konsep aksesibilitas Web. Saya tidak menampilkan banyak desain visual bukan karena antipati terhadapnya. Tapi, lebih karena ketidakmampuan saya, keterbatasan koneksi Internet, dan kompatibilitas format ‘Scalable Vector Graphic’ (SVG).

Tidak aksesibel

Menurut saya, situs useit.com tidak memenuhi beberapa rekomendasi aksesibilitas Web sebagaimana kebanyakan situs para pakar dan konsultan ‘Web usability’. Bisa dimaklumi karena beliau menyatakan mengelola situsnya sendiri. Dipakailah doctype HTML 4.0 Transitional. Kurangnya konsep keteraksesan dilihat dari hal berikut, diantaranya:

  • Masih memakai tag <table> untuk menyajikan deskripsi/’tagline’ situs dan kotak pencarian. Tidak semantik.
  • Jarak antarbaris atau line-height terlalu rapat.
  • Masih memakai teks hitam (#000) di atas latar putih (#fff). WCAG 2.0 menganjurkan teks gelap di atas latar krem.
  • Walau memakai ‘doctype Transitional’, mestinya banyak CSS ‘inline’ yang bisa disajikan sebagai CSS eksternal.
  • Urutan struktur h1h6 di beberapa dokumen tampak tidak logis.
  • Penggunaan tag <br> yang berlebihan dan tidak semantik. Seharusnya bisa memakai tag <ul> dan <li>.

Tulisan ini akan dilengkapi kemudian.

Persaingan meraih perhatian publik demi keuntungan pribadi kadang menyesatkan.

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

8 comments to "Kebergunaan Web & Jakob Nielsen"

  1. ArdianZzZ

    Haha, Jakob Nielsen memang bagus teori-teorinya, tetapi bukan berarti tanpa cacat ya. :)
    Mungkin yang ditulis Frank memang benar adanya tentang monopoli dan arogansi yang dilakukan si Jakob.
    Sayapun setuju dengan tampilan UseIT, saya memerlukan Readability untuk membacanya.

  2. dani

    Ardianzzz,
    Andil media massa pula yang memberi label pakar, seperti yang sering terjadi di Indonesia juga.

  3. ArdianZzZ

    Oh, Jadi teringat dengan pakar telematika kita. :)

  4. iskandaria

    Kalau berpatokan pada argumen bahwa setiap desain pasti ada alasannya, bisa jadi si Jacob punya alasan tersendiri mengapa situsnya didesain kurang aksesible begitu. Atau malah karena terlalu fokus keluar, yang di dalam akhirnya terlupakan :)

    Tes dari IE nih. Kebetulan lagi di warnet yang ada IE-nya :D

  5. iskandaria

    Hahaa. Baru nyadar ternyata saya pakai IE versi 6 yang sering diperbicangkan itu :) Efek shadow CSS3 benar-benar tidak terlihat.

  6. dani

    Iskandaria,
    Jakob Nielsen sudah menjelaskan “Why no graphic“. Kalau tentang tidak aksesibelnya, mungkin beliau akan menjawab,”Saya bukan desainer atau pengembang Web.”

    Di MSIE 6, setelah ‘skip to main content’, tidak bisa ‘back’. Di situsnya Mike Cherim, green-beast.com bisa, karena sudah dikustomisasi. Tag abbr juga saya biarkan tanpa bantuan ‘hacks’.

  7. ikhsan

    bagaimana dengan usereffect mas dani?

  8. dani

    ikhsan,
    ‘User effect’ yang paling akurat, ya ‘user testing’, dengan mengukur (dalam hal ini) ‘Web usability’ itu sendiri secara analitis. Misal memanfaatkan fitur statistik Web, menilai konversi, atau membandingkan beberapa antarmuka.