Trekking Blog Berbahasa Indonesia

Noted: Wednesday, July 28, 2010 at 14:26:38. Words count: 340.
Last updated: Sunday, June 26, 2016 at 20:46:46.

Tentu saja trekking itu istilah asing. Kata tersebut saya pakai untuk menggambarkan tulisan ini adalah hasil perjalanan ke pelbagai blog. Saya menyebutnya sebagai blogtrekking. Menelusuri kata kunci, menyimak kondisi blog tertentu, lalu mencatatnya di sini.

Kali ini saya menelusuri pemakaian ejaan bahasa Indonesia di blog. Menjelang 17 Agustus, sedikit nasionalis.

Salah mengeja bahasa Indonesia baku kadang berlaku kronis. Terjadi sejak lama, berbulan-bulan. Bahkan bertahun-tahun dan berulang tak kunjung sembuh. Salah yang menjadi kebiasaan.

Mulai dari diri sendiri. Kata berikut ini masih sulit saya terima kebenarannya. Karena sering salah menggunakannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, ejaan ini lebih dianjurkan dipakai:

  • kedaluwarsa, bukan kadaluwarsa.
  • ritsleting, bukan retsleting.
  • dekret, bukan dekrit.
  • sopir, bukan supir.
  • takhta, bukan tahta.
  • andal. Sehingga menjadi “andalan”, bukan “handalan”.
  • embus, bukan hembus.
  • imbau, bukan himbau.
  • lanskap, bukan lansekap.
  • magrib, bukan maghrib.
  • telanjur, bukan terlanjur—“r”-nya hilang.
  • respons. Pakai “s” di belakang.
  • remunerisasi, bukan renumerisasi.
  • sontek, bukan contek. Hah?
  • karisma, bukan kharisma. Mas Adi-Rismaka sepertinya salah nama!
  • tampak. Bukan “nampak”! Saya menemukan sekitar 10-15 buah tulisan di konten blog Dani Iswara .com yang salah mengeja kata ini.

Beberapa ejaan yang salah sudah diperbaiki. Agar tidak menyesatkan, setidaknya, untuk saya sendiri. Jadi, sebaiknya jangan contoh saya!
Untuk tata bahasa, saya masih sering tidak taat asas saat menuliskannya. Apalagi bahasa lisan.

Bagaimana dengan narablog lain? Jika blog para sastrawan, jurnalis, dan pengajar (dosen, guru) bahasa mampu memakai bahasa Indonesia yang baik, itu wajar. Saya mencari narablog di luar profesi itu.

Pemakaian bahasa Indonesia yang baku di blog biasanya bukan karena paksaan. Tapi lebih ke kesadaran dan kemauan. Butuh konsistensi. Konsisten salah, bisa saja. Karena penyuntingnya, narablog itu sendiri. Kemampuan? Bisa dipelajari. Kalau mau. Kita sama-sama pernah belajar bahasa Indonesia formal di bangku sekolah.

Daftar blog berikut ini memotivasi saya untuk berbahasa Indonesia lebih baik. Kategorinya?

  • Punya ketertarikan dengan bahasa Indonesia. Setidaknya ada beberapa tulisan yang menunjukkan itu.
  • Menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang baku di konten blognya. Tentu dengan kesalahan yang minimal, menurut saya. Tapi saya bukan hendak menjadi polisi EYD. Termasuk di komentar blog? Yang itu, belakangan saja.

Inilah beberapa blog tersebut:

Terima kasih. Kalian telah menginspirasi saya.
Koleksi ini bisa bertambah sewaktu-waktu.

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

10 comments to "Trekking Blog Berbahasa Indonesia"

  1. Cahya

    Trekking itu apa?

  2. dani

    Cahya,
    Trekking? Googling ajah! Ini memang bukan tulisan baku! Konten belum selesai kok dikomentari. Ada ajah…Tadi putus je koneksinya…

  3. aldy

    Bli Dani,
    menunya juga akan diganti dengan Bahasa Indonesia?

  4. Cahya

    Bli Dani,
    Googling itu apa? – tidak ditemukan dalam KBBI :D.

  5. dani

    Pak Aldy,
    Menu sepertinya tetap apa adanya, Pak. Kadang saya masih ingin sok Inggris. Terutama jika sumber bacaan sulit diterjemahkan.

    Mestinya sih satu bahasa. Atau, menu sebaiknya sesuai dengan bahasa yang paling sering dipakai.

  6. iskandaria

    Ternyata tulisan ini ada penyempurnaannya :) Mengenai baku, ternyata lebih kepada pemilihan kata sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan. Jika mengacu pada contoh di atas, tulisan-tulisan blog saya pun masih banyak mengandung kata yang tidak baku.

  7. agung

    Kira-kira kapan penambahan koleksi pada daftar kosong tersebut?

  8. dani

    agung,
    Sekonyong-konyong saja. Saya masih melihat konsistensi beberapa orang target lagi. Ada saran?

  9. agung

    Mas Dani,
    Waduh kali ini belum ada/punya saran mas, atau karena saya lebih sering berkunjung ke tempat narablog yang suka menggunakan bahasa “gaul”. Tapi ada lho narablog yang sepertinya terpaksa berkomentar dengan ejaan EYD yang benar jika dikolom komentar diberi peringatan, seperti diblog-nya Ade Malsasa Akbar. Mungkin bisa dimulai dari cara berkomentar dahulu mas, tidak hanya peringatan untuk menggunakan markah semantic saja :-).

  10. dani

    agung,
    Saya pernah menuliskan tentang itu. Tapi yang lebih terkait ke aksesibilitas Web. Saya pajang tautannya di atas kotak isian komentar sekarang.