Siasati Dulu, Mengeluh Belakangan

Noted: Thursday, July 8, 2010 at 16:04:09. Words count: 240.
Last updated: Monday, July 12, 2010 at 16:35:59.

Ada pengguna yang mengeluh kesulitan saat menelusuri halaman dan memakai aplikasi Web di Internet. Mungkin masih bisa disiasati. Tulisan tidak penting ini termuat hanya berdasar pengalaman pribadi penulis. Sebagai penyandang disabilitas/hendaya koneksi Internet, penghematan sana-sini pun dilakukan.

Karena status pengelolanya seperti di atas, blog tidak penting ini saya nyatakan blog fakir 'bandwidth'. Sampai-sampai Cahya Legawa pun berseloroh, jika ada yang men-'deface' dan mengganti gambar-gambar di blog saya, mungkin pengelolanya pun tidak akan mengetahuinya.

Upaya penghematan di sisi server, desain blog, hingga peramban Web dan diri pengguna, pernah saya tulis berseri di Dani Iswara .Net. Pokoknya tentang kecepatan waktu muat blog dan hemat 'bandwdith' Internet pengguna. Waktu itu belum ada yang namanya Page Speed dan YSlow. Tidak terasa, saya sudah terlalu sering memberi pranala internal ke tulisan sendiri…hahaha…. Daripada menjelaskannya lagi. Basi!

Banyak suka duka menonaktifkan tampilan gambar (Dani Iswara .com) saat menelusuri Web. Masalahmu deritamu! Kehilangan informasi, kesulitan navigasi, sering meraba tombol. Itu memang risikonya.

Awalnya, saya sebagai pengguna banyak mengeluhkan kondisi ini. Tapi, belakangan, banyak manfaat terasa. Kekurangan di sisi aksesibilitas Web relatif lebih mudah terdeteksi. Pun menyiasatinya. Apalagi peramban Web makin canggih dan cukup mumpuni untuk diajak berhemat saat menelusuri Web. Masing-masing punya setelan aksesibilitas. Jika tidak mau repot, pasang saja ekstensi, plugin, atau 'user javascript' (Opera bisa memakai ini untuk menetralisir iklan) agar lebih praktis.

Daripada selalu protes pada para pengelola blog, bolehlah lebih bersabar dan bersiasat lebih cerdik lagi. Ini juga pelengkap seri 'dejavu' saya. :)

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

12 comments to "Siasati Dulu, Mengeluh Belakangan"

  1. ardianzzzz

    Bolehlah mengkritisi, tetapi perhatikan dulu diri sendiri. :)
    Kecerdasan terlihat bukan dari apa yang kita katakan/tuliskan tetapi dari apa yang kita lakukan. :)

  2. dani

    ardianzzz,
    tapi kan, perokok boleh menasehati (sial, salah keitk) menasihati orang agar tidak merokok.

  3. ardianzzzz

    Hehe, iya, bolehlah :P

  4. rismaka

    Dok, apakah berarti kita juga tidak boleh mengeluh tatkala berkunjung ke suatu blog dan mendapati banyak pranala yang tidak deskriptif dan juga berpotensi mengecoh pengunjung? mungkin menyiasatinya dengan jalan selalu melihat ke status bar.

    Maaf dok, ga ada maksud apa-apa, hanya bertanya saja. :)

  5. rismaka

    ardianzzz,

    Jika mengkritik (menasihati) harus dilakukan oleh orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada lagi orang yang peduli terhadap sesama. Boleh kan seorang bapak yang merokok menasihati anaknya agar tidak merokok agar sang anak tidak mengganggu orang lain dengan asap rokoknya. ;)

  6. dani

    rismaka,
    hihihi, itu mungkin masuk yang 'belakangan'. Kecuali tidak ada lagi bar status di peramban Web [ = kiamat Web ].

  7. Blogazine, Usability, dan Accessibility – Unessential Weblog

    […] proses belajar bisa menyiasatinya dengan menonaktifkan CSS. Atau dengan bimbingan, jangan menyerah, siasati dulu, mengeluh belakangan (Dani Iswara .com). Dari sisi pengelola, menyajikan gambar yang mewakili konten akan lebih mudah […]

  8. iskandaria

    Kayaknya postingan ini adalah perwujudan komentar dejavu bli Dani saat blogwalking :D (terutama komentar pada posting yang mengeluhkan kondisi situs/blog yang dikunjungi).

    Yach, pada akhirnya kita harus meningkatkan level diri kita sebagai pengguna internet. Dulu waktu masih sangat awam, saya malah gak pernah melihat status bar dan gak pernah tau cara menonaktifkan gambar serta javascript.

  9. dani

    iskandaria,
    ah iya saya lupa memberi tag ‘dejavu’. Terima kasih sudah mengingatkan, Mas Is. :)

  10. BlogCamp

    Benar,sebaiknya kotak-katik dulu, daripada protes mulu
    salam kenal dari Surabaya

  11. Cahya

    Seandainya di negeri ini tidak ada kaum fakir lagi, mungkin seri de’ javu ini tak akan terbit. Atau suatu saat kendala itu pupus, seri de’ javu ini akan masuk museum aksesibilitas web zaman purbakala, he he he… :D

  12. dani

    Cahya,
    walau tidak fakir, fitur semacam Safari Reader akan eksis. Belum lagi akan selalu ada orang-orang baru penikmat Web.