Categories
Unessential Blogging

Siasati Dulu, Mengeluh Belakangan

Diperbarui: Senin, 12 Juli 2010
Bagi di FB | Cuitkan

Ada pengguna yang mengeluh kesulitan saat menelusuri halaman dan memakai aplikasi Web di Internet. Mungkin masih bisa disiasati. Tulisan tidak penting ini termuat hanya berdasar pengalaman pribadi penulis. Sebagai penyandang disabilitas/hendaya koneksi Internet, penghematan sana-sini pun dilakukan.

Karena status pengelolanya seperti di atas, blog tidak penting ini saya nyatakan blog fakir 'bandwidth'. Sampai-sampai Cahya Legawa pun berseloroh, jika ada yang men-'deface' dan mengganti gambar-gambar di blog saya, mungkin pengelolanya pun tidak akan mengetahuinya.

Upaya penghematan di sisi server, desain blog, hingga peramban Web dan diri pengguna, pernah saya tulis berseri di Dani Iswara .Net. Pokoknya tentang kecepatan waktu muat blog dan hemat 'bandwdith' Internet pengguna. Waktu itu belum ada yang namanya Page Speed dan YSlow. Tidak terasa, saya sudah terlalu sering memberi pranala internal ke tulisan sendiri…hahaha…. Daripada menjelaskannya lagi. Basi!

Banyak suka duka menonaktifkan tampilan gambar (Dani Iswara .com) saat menelusuri Web. Masalahmu deritamu! Kehilangan informasi, kesulitan navigasi, sering meraba tombol. Itu memang risikonya.

Awalnya, saya sebagai pengguna banyak mengeluhkan kondisi ini. Tapi, belakangan, banyak manfaat terasa. Kekurangan di sisi aksesibilitas Web relatif lebih mudah terdeteksi. Pun menyiasatinya. Apalagi peramban Web makin canggih dan cukup mumpuni untuk diajak berhemat saat menelusuri Web. Masing-masing punya setelan aksesibilitas. Jika tidak mau repot, pasang saja ekstensi, plugin, atau 'user javascript' (Opera bisa memakai ini untuk menetralisir iklan) agar lebih praktis.

Daripada selalu protes pada para pengelola blog, bolehlah lebih bersabar dan bersiasat lebih cerdik lagi. Ini juga pelengkap seri 'dejavu' saya. :)

12 replies on “Siasati Dulu, Mengeluh Belakangan”

Bolehlah mengkritisi, tetapi perhatikan dulu diri sendiri. :)
Kecerdasan terlihat bukan dari apa yang kita katakan/tuliskan tetapi dari apa yang kita lakukan. :)

Dok, apakah berarti kita juga tidak boleh mengeluh tatkala berkunjung ke suatu blog dan mendapati banyak pranala yang tidak deskriptif dan juga berpotensi mengecoh pengunjung? mungkin menyiasatinya dengan jalan selalu melihat ke status bar.

Maaf dok, ga ada maksud apa-apa, hanya bertanya saja. :)

ardianzzz,

Jika mengkritik (menasihati) harus dilakukan oleh orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada lagi orang yang peduli terhadap sesama. Boleh kan seorang bapak yang merokok menasihati anaknya agar tidak merokok agar sang anak tidak mengganggu orang lain dengan asap rokoknya. ;)

rismaka,
hihihi, itu mungkin masuk yang 'belakangan'. Kecuali tidak ada lagi bar status di peramban Web [ = kiamat Web ].

Kayaknya postingan ini adalah perwujudan komentar dejavu bli Dani saat blogwalking :D (terutama komentar pada posting yang mengeluhkan kondisi situs/blog yang dikunjungi).

Yach, pada akhirnya kita harus meningkatkan level diri kita sebagai pengguna internet. Dulu waktu masih sangat awam, saya malah gak pernah melihat status bar dan gak pernah tau cara menonaktifkan gambar serta javascript.

Seandainya di negeri ini tidak ada kaum fakir lagi, mungkin seri de’ javu ini tak akan terbit. Atau suatu saat kendala itu pupus, seri de’ javu ini akan masuk museum aksesibilitas web zaman purbakala, he he he… :D

Cahya,
walau tidak fakir, fitur semacam Safari Reader akan eksis. Belum lagi akan selalu ada orang-orang baru penikmat Web.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.