Seandainya Google Bertentangan dengan Aksesibilitas Web

Noted: Friday, July 9, 2010 at 10:23:26. Words count: 225.
Last updated: Sunday, July 11, 2010 at 11:18:42.

Kebanyakan isi Panduan Webmaster Google sejalan dengan konsep rekomendasi aksesibilitas Web (saat ini WCAG 2.0) dari W3C. Nyatanya, ada beberapa hal dimana aksesibilitas dan algoritma Google sejalan. Google menyajikannya dalam bahasa nonteknis. W3C memberikan panduan teknisnya secara lebih detail. Sehingga yang disebut SEO (terutama 'on-page') sering 'overlapping' dengan aksesibilitas Web.

'Usability' mencakup selera, kesukaan, kemudahan, dan kebutuhan kebanyakan pengguna normal. Aksesibilitas memperhitungkan penyandang disabilitas. Mudah bagi pengguna disabilitas, mestinya mudah juga bagi pengguna lainnya.

Google dan mesin telusur/pencari Internet lainnya buta–dalam arti memang tidak memiliki organ mata seperti manusia. Analoginya, Google bekerja serupa 'screen reader', 'voice browser', peranti 'text-to-speech' (seperti fitur 'Read Out Loud' di Adobe Reader), peramban Web berbasis teks (seperti Lynx, Links, Elinks), emulator Fangs, dan sejenisnya.

Para ahli, konsultan, desainer, pengembang Web, perwakilan vendor, berkumpul di W3C. Mungkin saja tidak semua masukan tiap anggota Konsorsium WWW itu diterima. Apalagi ada pertimbangan politis dan tiap pihak juga berhak memberi donasi sejumlah tertentu.

Adakah kemungkinan algoritma Google dan mesin telusur/pencari Internet bertentangan dengan konsep aksesibilitas Web? Mungkinkah suatu konten Web kehilangan sentuhan manusianya? Dan hanya layak diakses oleh mesin tertentu semata?

Jika ada–yang dianggap–teknik SEO tapi berpeluang mengecoh pengguna manusia, bisakah itu dianggap hasil percobaan empiris yang tidak aksesibel?

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

3 comments to "Seandainya Google Bertentangan dengan Aksesibilitas Web"

  1. Cahya

    Sebelum merasakan sendiri sulitnya, mungkin kita belum bisa berempati?

  2. dani

    Cahya,
    “Saya mengerti yang kamu rasakan.”
    “Ah, yang benar saja!”

  3. Cahya

    Bli Dani,
    Itu yang dibilang namanya “gombal”.