Blogazine, Usability, dan Accessibility

Noted: Friday, July 9, 2010 at 11:17:45. Words count: 776.
Last updated: Monday, July 12, 2010 at 11:51:37.

Diskusi di suatu situs membicarakan mengenai 'user experience' (UX). Menurut Wikipedia,

User eXperience (UX) refers to the interaction of person with a system including their actions and perceptions, i.e., what the person wants to do, what they actually do and their feels about using a system.

Istilah antarmuka pengguna/'user interface' (UI) adalah salah satu bagian UX. Belakangan, istilah-istilah di atas juga bersinggungan dengan desain yang berorientasi pada pengguna/'user-centered design'. Dan tetap 'overlapping' dengan 'usability' dan 'accessibility'. Tolong koreksi saya jika salah.

Bayangkan jika paragraf di atas konsisten memakai tag emphasis untuk istilah asing. Masihkah nyaman dibaca dan didengar? :)

Kembali ke cerita awal.

Let me say up front that I wouldn’t be talking about any of these sites if they didn’t have some pretty good things going for them. I’m not saying they’re bad sites, but instead, more something like “If your site is about good UX, what does it say if I have a poor experience at your site?”

Amy Blankenship (InsideRIA.com) on What have we forgotten about UX?

Di tulisan tersebut, Amy–seorang desainer grafis–menempatkan diri sebagai seorang pengguna yang mengeluhkan kebergunaan/'usability' beberapa desain web/blog. Situs tersebut antara lain anthonyfranco.wordpress.com, useit.com, workflowfreelance.com, dustincurtis.com, dan uxbooth.com. Yang memakai model blog bergaya majalah ('blogazine') hanya situs dustincurtis.com.

Kritikan pedasnya terhadap situs dustincurtis.com, antara lain:

So it seems to me that he’s actually expecting visitors not just to alter their browsing behavior, but to resize their browsers, to view one post on his site. This kind of arrogance is disturbing in any designer, but it’s especially disturbing in one who seems to be developing a following among would-be UX designers.

Diskusi panjang di kolom komentar pun menarik disimak. Karena konten saya ini berjudul tentang 'blogazine', saya kutip beberapa pendapat.

Pengomentar bernama Zero menyebut:
After all, its USER eXperience, not Designer-Tells-You-What-To-Do eXperience.

Komentar yang bernada positif dari Amy dan Paul Taylor:
As a designer, it is Dustin’s obligation to innovate and push the boundaries of what is acceptable in UI.
Komentar ini mulai tumpang tindih antara UX dan UI.

Itulah, jika para pakar dan pemerhati UX berdebat sehat seputar kebergunaan/'usability', antarmuka/'user interface', dan 'user experience'. Aksesibilitas pun kadang tumpang tindih dengan pengertian mereka terhadap 'usability'. Sebaliknya, para pakar aksesibilitas akan memasukkan 'usability' sebagai pelengkap. Jika aksesibel, mestinya juga lebih 'usable' bagi orang normal. Kecuali jika unsur estetis keindahan grafis masuk hitungan.

Pendapat subjektif saya

Ini sekaligus tanggapan terkait tulisan Mas Adi-Rismaka.Net berjudul Blogazine, Tren Sesaat Sebuah Konsep Desain Blog. Menurut Mas Adi:

Beberapa kelemahan dari blogazine

  1. Membutuhkan waktu yang lama hanya untuk sekedar mendesain dan redesign.
  2. Pengunjung lebih fokus kepada desain daripada konten.
  3. Pengunjung dibuat bingung dengan tampilan yang tidak konsisten.
  4. Kurang up to date.

Konsistensi tampilan yang berbeda

Itu juga disebut konsisten, kan? Konsisten menampilkan yang lain daripada yang sudah ada. Blog dengan visualisasi baru, modern, atau apalah itu, tentu menarik dinikmati oleh mata dan hati, bagi kebanyakan orang. Bagi yang terganggu dengan tampilan halaman Web tanpa gambar, animasi, dominan teks, monoton, sepi, hambar, klasik, maka penyegaran visual Web lebih jadi pilihan. Dan itu harus dihargai.

Penerimaan pengguna (tanpa disabilitas) akan kemudahan akses dikembalikan ke selera dan rasa. Mereka bisa memilih mana visualisasi yang nyaman di mata. Selain penyandang disabilitas buta total, kenyamanan visual juga mungkin jadi pilihan yang menarik bagi penyandang disabilitas pendengaran, hendaya kognitif, dan pengguna senior/lanjut usia. Tapi, penyandang disabilitas buta total sepertinya tidak punya pilihan itu. Yang mereka cari adalah informasi dan fungsionalitas konten-navigasi, bukan keindahan visual.

Penyandang disabilitas hendaya kognitif teorinya akan lebih nyaman mengakses halaman Web dengan struktur yang umum dipakai. Dengan adanya CSS, tampilan visual bisa disetel sedemikian rupa. Pengguna dengan keterlambatan proses belajar bisa menyiasatinya dengan menonaktifkan CSS. Atau dengan bimbingan, jangan menyerah, siasati dulu, mengeluh belakangan (Dani Iswara .com). Dari sisi pengelola, menyajikan gambar yang mewakili konten akan lebih mudah dipahami.

Jadi, tidak ada masalah dengan konsistensi antarmuka yang selalu berbeda tiap halaman. Asumsinya, para pengguna setidaknya pernah juga membaca majalah versi cetak.

Tapi, dilihat dari sisi aksesibilitas, learning curve tiap pengguna mungkin terpengaruh. Misalnya, navigasi yang biasanya ada di atas atau bilah sisi, kini berbeda posisi. Butuh waktu menerima sesuatu yang berbeda. Proses pembelajaran jadi lebih panjang.

Kemudahan pengelolaan desain

Dari sisi pengelola, terkesan butuh waktu untuk berkreasi dengan tampilan berbeda. Frekuensi memperbarui konten jadi terpengaruh. Bagaimana jika suatu ketika dibuat suatu sistem yang mampu menyederhanakan proses desain itu. Sehingga cukup dengan klik satu tombol, tampilan berbeda bisa dinikmati dengan mudah. Pengelola tetap bisa fokus mengisi konten. Sehingga blogazine bukan lagi dominasi orang-orang yang paham desain.

Ringkasan

Akan tetap ada perbedaan pendapat. Hitam putih, baik buruk, suka atau tidak suka. Sesuatu yang baru, entah itu inovasi, revolusi, kreativitas, butuh waktu untuk lebih diterima atau bahkan ditolak. Masing-masing ada target penggunanya. Punya kelebihan dan kekurangan. Anggaplah ini dinamika yang mestinya dinikmati. Bukan saling menjatuhkan :) [ah sok tua deh…main aman…].

Sial, kok jadi panjang?

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

15 comments to "Blogazine, Usability, dan Accessibility"

  1. ardianzzz

    Hehe, bukankan Bli Dani pernah menjelaskan penggunaan emphasis dan italic. Jika istilah tersebut tidak begitu penting dalam artikel kita bisa menggunakan tag italic, sekedar utnuk menciptakan visualisasi pada pembaca normal. :)

    Sepertinya memang saat ini mulai banyak yang memperhatikan masalah aksesibilitas dan usabilitas. Subyektif, saya merasa adanya kesalah pahaman/salah kaprah bahwa web yang fokus pada aksesibilitas & usabilitas berarti mengorbankan desain antarmuka.

    Saya membuat diagram sederhana untuk menjelaskannya disini (twitpic).

    Saya beranggapan, desain yang baik adalah untuk mencapai User eXperience yang baik. Hal tersebut tidak dapat tercapai tanpa faktor desain antarmuka, aksesibilitas dan usabilitas.

  2. dani

    ardianzzz,
    terkait emphasis dan italic, ya saya pernah menyebutnya. Termasuk menyebutkan achecker.ca yang ternyata menganggap tag italic itu ‘deprecated’. Karena belum menemukan titik terang dan sumber yang valid, saya main aman saja dulu. :)

    Yah, debat ‘usability’-aksesibilitas dan desain (grafis) antarmuka memang klasik. Kombinasi ketiganya (sesuai gambar Mas Ardian itu) sepertinya ideal.

    Desain antarmuka tanpa grafis dianggap aliran ortodok–‘old school’–aksesibilitas. Padahal Accessites.org sudah me-‘review’ beberapa situs yang diberi penilaian aksesibel tapi tetap nyaman di sisi visual.

    Tapi kalau tanpa gambar itu karena fakir ‘bandwidth’, ya itu pilihan saya! :)

  3. ardianzzz

    Hehehe, saya doakan deh semoga kedepannya layanan internetnya meningkat. :)

  4. rismaka

    Iya deh, ngikut aja….
    *balik badan, pulang… tutup form komentar :(

  5. dani

    rismaka,
    sial…apalagi salah saya? Kenapa ditutup?

    Mas Anis Fahrunisa tutup blog karena mau fokus ke studi.
    Pakde Handoko Harry menutup komentar seputar Page Speed dan YSlow setelah saya merujuk ke sana. Sekarang beliau sedang ada kesibukan lain.

    Kalau komentar ini saya tutup juga, bagaimana? Kan situ rugi ngerujuk ke sini… :P

  6. rismaka

    dani,
    Yah (ngelesnya), bukan ngerujuk, tapi anggap saja saya sedang sibuk, jadi melimpahkan permasalahan untuk dijawab kepada situ :P

    Saya mau konsen nulis apa yang saya pengen tulis dok, capek juga ngejawab bantahan dari para pakar desainer :)

    *kabur lagi

  7. wildanr

    Saya juga membaca artikel bahasan soal blogazine di smashing-magazine itu. Kesan pertama saya: Wow.. keren!! Tapi pas liat komentar-komentarnya, ternyata banyak yang tidak sependapat dengan saya dengan berbagai alasan yang masuk akal.

    Pendapat saya, konsep blogazine mungkin cocok diterapkan sekali-sekali (tidak terus-menerus) untuk blog yang dikelola secara profesional dan tidak sendirian (ada desainer, penulis, editor). Untuk blog yang dikelola oleh personal, pastinya repot kalau harus membuat deain untuk setiap postingan.

    Yah.. kita liat saja kedepannya. Nice post and nice blog by the way :)

  8. dani

    rismaka,
    ah bantahan tidak harus ditanggapi semuanya. Silakan saja. Jangan terbebani. Lanjut… :)

    wildanr,
    saya sengaja tidak membaca situs itu untuk mendapat sudut pandang lain.
    Justru saya membayangkan saat menulis konten dan komentar, pengguna tinggal centang pilihan 'theme' yang ada, jadi deh. :) Terima kasih apresiasinya.

  9. Padly

    “Dari sisi pengelola, terkesan butuh waktu untuk berkreasi dengan tampilan berbeda. Frekuensi memperbarui konten jadi terpengaruh. Bagaimana jika suatu ketika dibuat suatu sistem yang mampu menyederhanakan proses desain itu. Sehingga cukup dengan klik satu tombol, tampilan berbeda bisa dinikmati dengan mudah. Pengelola tetap bisa fokus mengisi konten. Sehingga blogazine bukan lagi dominasi orang-orang yang paham desain.” By Dani Iswara.

    Wahh… Asyik tuh Bli, bikin donk :)

  10. rismaka

    ide bagus utk membuat theme sekunder yang bisa dipilih sendiri oleh pembaca, baik pengguna faakir bandwidth maupun pengguna perangkat mobile.

    saya rasa ide ini mudah diterapkan

  11. dani

    Padly, rismaka,
    sana bikin gih… :D

  12. hachi

    quote dr atas, kelemahan blogazine:
    alasan no. 2,3,4 oke setuju, memang kurang up-to date dan
    buatnya bikin repot. kalau yg no. 1 kayaknya, ya dan tidak,
    ya kalau rumit waktunya lama barangkali, tidak, kalau sederhana. tetep konten yg paling payah, apalagi kalau blog2 spesifik seperti ini misalnya. kecuali kalau blog2 gosip or BB+17 kayaknya lebih gampang buat kontennya.

    agak menyimpang sedikit,
    sebenernya istilah yg bener itu apa ? blogazine atau custom post ?
    katanya ini trend sekitar thn 2008, masa sih ?
    kalau blogazine sama dengan custom post, dalam arti luas kayaknya bukan trend baru, website jaman dulu-pun sudah melakukannya dengan segala kesederhanaannya, minus css3.

    saya ambil contoh: http://www.edwebproject.org, dalam beberapa hal dia sudah membuat custom post walaupun gak perlu efek css3,

    jadi saya adalah orang yg nggak percaya kalau blogazine (dlm arti luas) adalah trend baru, itu adalah trend lama, blogazine adalah filosofi web kuno yang lahir kembali dalam konsep yang lebih mutahir . ini cuma pendapat, kalau salah tolong benerin. thx.

  13. dani

    hachi,
    Tren kan memang selalu hilang timbul. Entah dengan nama dan dimensi yang baru. :)

  14. hachi

    wah mendarat lg saya disini..

    nyambung yg dulu, kalau melihat smashing magazine pionirnya:
    #1 jason santa maria
    #2 dustin curtis

    jason, nggak berubah 360 derajat bagian tertentu tetap, dustin curtis malahan hanya menggunakan html, javascript, definisi blogazine barangkali tidak harus berbeda 360 derajat mungkin hanya beberapa bagian, yang berubah

    kalau cuma kayak begini, web2 tahun 95, 97, banyak yang buat, memang sederhana gak masalah, orang ini bicara konsep kok.
    layout, tata letak.

    dua tahun yang lalu orang pada kaget blogazine konsep baru, baru apanya ? saya sudah bosen lihat yang model begitu di web statis jaman dulu buat nyari referensi, (kalau cuma halaman beda),

    kalau tebakan saya nggak meleset sebentar lagi mungkin muncul
    yang namanya editorial layout, rame lagi nanti, baru lagi nanti katanya.. padahal udah lama juga..
    contoh url diatas menurut hemat saya adalah salah satu contoh kombinasi lengkap dari semua ini.

    simpulan:
    ———
    ya kalau tampilan mewah okelah mewah itu memang diakui, kebetulan saya nggak perlu mewah.

    kalau pionir dibilang niru pasti gak mau, maunya dibilang inovator, creator dll, tapi nggak pernah buat perbandingan dengan web yang lama. ini yang repot,

  15. Blogazine, Resiko, dan Tantangan Penerapannya

    […] ria jika ini terdengar terlalu filosofis. Lebih lanjut tentang hal ini, coba baca tulisan Blogazine, Usability, dan Accessibility di Dani Iswara […]