Categories
Web Accessibility

Aksesibilitas Web Relatif

Diperbarui: Senin, 19 Juli 2010
Bagi di FB | Cuitkan

Tidak mungkin memuaskan dan memenuhi keinginan semua pihak! Sehingga disebut relatif. Web aksesibel sesuai target pengguna. Mungkin pula tidak mudah diakses dan dipahami oleh sebagian pengguna lain. Tanpa bermaksud menyingkirkan kaum minoritas.

Tidak semua bahasa mudah dimengerti. Tidak semua penyaji konten Web harus memakai struktur bahasa yang paling sederhana. Apa jadinya jika semuanya seragam tanpa karakteristik masing-masing? Tiap penyaji konten juga punya hak menyampaikan idenya sesuai kebebasan yang ada.

Di sisi lain, keseragaman justru sangat bermanfaat. Belum semua peramban menerapkan standar Web. Bayangkan jika tiap vendor teknologi menerapkan standardisasi masing-masing. Suatu konten dan teknologi hanya bisa diakses oleh produk miliknya dengan cara tertentu. Bukan sistem terbuka yang mudah diakses publik.

Panduan W3C juga bukan aturan atau hukum—‘dejure’. Hanya berupa rekomendasi ‘defacto’ yang juga banyak disarankan di beberapa negara. Terutama negara yang mengakui hak asasi akses layanan publik. Internet itu hak asasi? Mengakses informasi Web itu hak asasi? Kita lihat saja perkembangannya.

12 replies on “Aksesibilitas Web Relatif”

Bli Dani,
Dinegara lain keterbukaan dan kemudahan informasi sudah menjadi hak asasi ? kalau dinegeri ini “hak asasi saya untuk tidak valid“ nah.

Pak Aldy,

Kalau ranah blog apa masih boleh disentuh dengan “hak asasi”, lha yang bangun rumah mau jadi seperti kastil dengan penjagaan super ketat dan ada tulisan tuna wisma dilarang masuk – kan itu haknya. Ada yang membangun rumahnya seperti gubuk ala kadarnya, tapi siapa pun bisa masuk dan diterima dengan hangat – itu juga haknya.

Kadang serempetan antara sisi privat dan sisi publik sebuah weblog itu menyebabkan benturan, kalau terbentur terus, kepala saya bisa tambah mumet nantinya, he he :D.

Cahya,
jika situs layanan publik seperti situs pemerintahan, pendidikan, dan institusi resmi punya fitur blog, tentu mempertimbangkan hak akses informasi, teorinya.

Yang W3C kan hanya rekomendasi. Bukan paksaan.
Lalu, siapa yang membenturkan? Siapa yang terbentur?

Kalau ada yang menuntut secara hukum, itu lain masalah.
Risk of legal action:

Cautionary Tales of Inaccessibility

When organizations do not make their websites accessible, they risk legal action and negative publicity, as the case studies below illustrate.

  • Target Corporation – settlement for damages of $6 million USD and attorney’s fees and costs over $3.7 million after lawsuit by US National Federation of the Blind (NFB). Read the Target case study (2008, USA).
  • Sydney Olympic Games – required to pay $20,000 AUD in damages due to poor accessibility. Read the Sydney Olympics case study (2000, Australia).
  • Amex – “Bank upgrade is excluding blind. Visually impaired customers of American Express say they can no longer read their credit card statements online.” – headlines after making its statements less accessible in a format change…(2008, UK).

Wah yang itu sih mengerikan :D.

Seperti iklan produk gratis via sms di televisi (game, ringtone, etc), yang terdengar hanya suara “ketik reg spasi bla… bla…”, tapi tidak ada suara “ketik unreg spasi bla… bla…” bisa jadi masalah tuh untuk blind audience. Bisa kena tuntut ga sih?

Cahya,
minta tolong teman sebelah yang bisa baca. Seperti kerja sama penyandang disabilitas penglihatan dan pendengaran yang saling bantu.

Cahya,
jika misalnya halaman Web memang sama sekali tidak aksesibel bagi pengguna pembaca layar komputer, siaran televisi tidak bisa dinikmati penyandang disabilitas penglihatan+pendengaran (tunanetra+tunarungu), siaran radio tidak aksesibel bagi penyandang disabilitas pendengaran total. Lalu mau bagaimana dong?

[…] Aksesibilitas Web Relatif, benar! Tidak mungkin memuaskan semua pengguna dalam arti harfiah. Yang ada hanyalah memaksimalkan sesuai kemampuan (saya). Pun tidak berusaha untuk memuaskan orang lain. Saya tidak akan mampu memenuhi standar tinggi Anda! Jadi, saya pilih memakai standar paling rendah saja. Jika bisa orgasme sendiri, mengapa butuh orang lain? Silakan memuaskan diri Anda sendiri! Maksa banget! […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.