Kategori
Web Accessibility

Minoritas Itu Bukan Berarti Tidak Penting

Last Updated on 30 Juni 2010 by dani

Bukan juga harus menuntut agar dipenting-pentingkan. Walau minoritas, tetap ada suaranya. Mungkin tidak ada yang pernah bercita-cita menjadi penyandang disabilitas. Pun kalau akhirnya diberikan ketidakmampuan tertentu oleh Tuhan Yang Mahakuasa, bisakah kita menolak?

Minoritas di sini bukan hanya para penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas pun bukan hanya tunanetra (maaf jika saya pakai lagi istilah ini). Termasuk minoritas diantaranya pengguna koneksi Internet terbatas, para senior atau lanjut usia, serta penyandang disabilitas panca indera, alat gerak, dan hendaya kognitif. Dulu, pengguna layar kecil semacam telepon seluler masih bisa disebut minoritas. Sepertinya tidak lagi untuk saat ini dan ke depannya.

Mendiskusikan kebergunaan atau 'usability' Web dengan aksesibilitas Web memang tidak akan ada habisnya. Sudut pandang kebanyakan pengguna normal dihadapkan dengan konsep minoritas pengguna Web.

Dalam bahasa saya, topik itu tertuang di tulisan Beda Web 'Usability' dan Aksesibilitas Web (Dani Iswara .com). Pengguna dengan kelengkapan fungsi panca indera, alat gerak, dan kemampuan kognitif, belum masuk kategori lanjut usia, serta koneksi Internet lancar, akan menganggap suatu situs Web masih nyaman diakses dan digunakan. Kemungkinan berbeda dengan kondisi pengguna yang sebaliknya.

Adakah jalan tengahnya? :)

16 tanggapan untuk “Minoritas Itu Bukan Berarti Tidak Penting”

Memang ya, kalau setelah main ketempat mas Dani pasti bawaannya ingin buka editor html. Mengecek situs sendiri ada tag salah / kurang tepat atau mungkin struktur desain ada yang kurang tepat.. Haha..

jenggo,
saya sudah punya ide tanggapan untuk pernyataan ini. Alasan tidak blogwalking setelah posting:

Maksudnya, tidak komentar saat blogwalking sehabis publikasi tulisan baru. Alasannya, ngga enak aja. Ntar dikira nembak yang bersangkutan. Padahal kan ngga. :)

Tulisan itu isinya persis sama dengan kuotasi di atas. Memang hanya itu isinya! :)

Jalan tengahnya mungkin tetap berusaha mengakomodir kedua tipe pengguna (normal dan penyandang disabilitas). Yang terpenting yaitu melakukan pembenahan/perbaikan secara bertahap. Mulai dari yang paling penting ke tingkat yang kurang penting. Nah, masalahnya mungkin terletak pada urutan (skala prioritas) yang harus dilakukan. Mana yang harus lebih dulu, mana yang bisa setelahnya, dan seterusnya.

Daftar evaluasi weblog mandiri mungkin bisa jadi solusi untuk hal ini :)

Haha.. Padahal maksud saya tulisan-tulisan mas Dani dari yang .net sampai ada .com cukup banyak membahas tentang standarisasi, usability, dan sebagainya yang terkadang terlewat dari perhatian saya saat mendesain sebuah situs.
Jadi intinya itu pujian + berterimakasih.
Maaf jika komentarnya terkesan asal lewat dan meminta komen balik.. Lainkali saya perbaiki cara berkomentarnya. Hehe..

Yang pasti kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. Berhubung situs saya tidak bertujuan komersial dan lebih untuk eksperimen pribadi, saya tidak terlalu peduli dengan masalah ini. Yang penting sesuai dengan kebutuhan saya, masalah untuk yang lain nanti saya pikirkan lagi.

Jeprie,
prinsipnya saya setuju. Wacana desain universal (memuaskan–hampir/seluas-luasnya–semua pihak) itu saya anggap normatif.

Sebenarnya saya sangat ingin tahu respon pengelola blog jika mendapat kritik kesulitan akses oleh penyandang disabilitas langsung. Bahwa penyandang disabilitas merasa terbantu dengan tulisan Mas Jeprie, tapi mereka merasa kesulitan di beberapa aspek desain antarmuka.

Maaf, saya terlambat merespon yang di Textpattern.

Textpattern yang mana pak?

Misalnya kasus situs desain seperti saya. Salah satu kelemahan pengguna Indonesia masih terbatas dengan kecepatan. Saya sudah tigak mungkin lagi mengurangi jumlah gambar untuk mengakomodir pengguna, walaupun banyak. Jika dilakukan, ini malah akan menurunkan standar kualitas tulisan saya. Jadi, saya paksakan saja seperti ini, walaupun mungkin akan berakibat tidak populer. Apalagi, seperti saya katakan, situs saya tidak komersil jadi sedikit pengunjung pun tidak masalah.

Jeprie,
He he he Txp saya hanya satu itu.
Jika situs desain grafis, mungkin bukan di jumlah gambar masalahnya. Sudahlah Mas Jeprie, itu hanya jika.

Nimbrung.. hehe..
Bagaimana dengan “Disabilitas browser?” misalnya saat kita mengakses sebuah situs dengan mobile browser. Akhirnya jalan keluarnya pengelola situs memberikan alternatif untuk mengakses versi mobile.
Hmm, bukan bermaksud mengkotakkan atau diskriminasi, tetapi cara ini sepertinya bisa juga dijadikan pilihan, misalnya membuat halaman tersendiri untuk penyandang disabilias pengelihatan, koneksi internet, untuk IE6 dsb. Mungkin merepotkan, tetapi dengan teknologi WordPress 3 saya rasa sangat mungkin dilakukan.. hehe..

ardianzzz,
antarmuka Web versi khusus untuk tiap pengguna:
normal, penyandang disabilitas (tiap hendaya panca indera seperti, maaf, buta dan tuli, hendaya alat gerak–otot/tangan/jari, hendaya kognitif, disabilitas koneksi Internet), lansia, pemakai iPhone, Blackberry, Internet Explorer, 'voice browser', bahasa internasional, bahasa lokal, lebih suka set huruf serif, lebih suka set huruf sans-serif, lebih senang latar gelap, lebih senang latar terang, dan lainnya…?

Mungkin akan 'usable' bagi pengguna. Tapi, tanyakan dulu (diiri sendiri situ) para pengelola, pengembang, dan desainer yang akan memelihara situs…he he he…

Menurut saya, kok ya lebih enak jika halaman/aplikasi Web itu lebih universal, platform terbuka. Seperti juga peramban Web yang bisa berfungsi universal dengan/tanpa bantuan ekstensi/fitur tambahan. Jadi, pilihan diserahkan ke pengguna.

Tambahan buat semuanya,
saya memandang makna universalnya Web dan 'memuaskan “semua” pengguna' itu hanya berdasar 'best practice' yang dianjurkan 'Web Content Accessibility Guidelines' 2 Level AA. Jadi, bukan benar-benar membuat klimaks puas siapapun penggunanya menurut Level AAA.

Hahaha, benar sekali :)
Bahkan seoarang UX desainer paling handal sekalipun belum tentu bisa membuat website yang dapat memuaskan semua pengguna.
Mengenai rekomendasi, hal tersebut pasti telah melaui riset yang cukup. Tidak ada salahnya mengikuti rekomendasi dan standard (hal ini sepertinya membuat biaya pengembangangan juga lebih murah dan mudah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.