Cache, Skor Page Speed, YSlow, dan W3C Mobile

Noted: Thursday, May 20, 2010 at 21:45:27. Words count: 370.
Last updated: Sunday, November 12, 2017 at 21:52:39.

Saat mencoba skor Page Speed pertama kali, saya tidak begitu tertarik. Karena menganggap beberapa konsepnya, terutama 'cache'/tembolok, teorinya tidak akan bertentangan dengan rekomendasi Konsorsium 'World Wide Web (WWW) Mobile'. Ketersediaan setelan tembolok tertentu, cukup memengaruhi kecepatan akses dan waktu muat situs Web-blog. Saat berselancar memakai koneksi Internet dengan lebar pita/'bandwidth' terbatas, apalagi berbasis volume, informasi 'cache' di sisi peramban bisa bermanfaat untuk penghematan.

Kutipan Rekomendasi W3C Mobile Web Best Practices 1.0 terkait setelan tembolok:

Providing caching information helps mobile browsers reduce the number of network accesses, making it quicker and cheaper to load pages.

Setelah membaca tulisan Pakde Handoko Harry tentang Grade A Konfigurasi Entity Tags YSlow beberapa kali, belakangan ini baru saya putuskan untuk memasang pengaya YSlow di peramban Web Firefox. Saya pikir sudah cukup dengan pengaya 'Page Speed' saja. Selebihnya, saya menyimak YSlow dari tinjauan blog lain saja. Hingga saat ini, saya belum memahami dokumentasi YSlow.
Apa itu Entity Tags (ETags) dan bagaimana efek 'cache'-nya, sudah dijelaskan oleh Pakde Harry di tulisannya tersebut. Baca juga tulisan beliau berjudul Google Page Speed, Yahoo-YSlow, atau keduanya?

Kompromi setelan waktu 'cache'

Kembali ke fungsi tembolok. Jika efeknya terlalu kuat, atau setelan penyimpanan terlalu lama, pengguna akan menerima halaman/konten yang sama/lawas hingga waktu tertentu sesuai setelan 'cache'. Kecuali tembolok di sisi peramban Web dibersihkan atau pengguna me-'refresh' manual, misal dengan menekan tombol F5. Atau sabar menunggu hingga waktu tertentu. Efek 'cache' akan lebih bermanfaat pada situs Web dengan trafik yang padat. Kirim komentar sekali, tapi bayar pulsa lebih saat ada puluhan komentar baru bermunculan serentak?

Sebaliknya, pada kondisi ekstrim, pengguna fakir 'bandwidth' tentu tidak ingin jatah pulsanya sebulan terkuras oleh fitur muat ulang otomatis atau 'auto-refresh'/'reload' suatu 'widget' Web-blog. Misal semacam fitur 'auto refresh' di 'chat box', 'music box', statistik, status media sosial, bahkan muat ulang otomatis halaman Web saat ada komentar baru dan lainnya. Keputusan diserahkan sepenuhnya ke pengguna. Akan melakukan penyegaran halaman secara manual atau tidak. Atau lebih suka muat ulang yang otomatis?

Komprominya, menurut saya, 'cache' tetap diberlakukan untuk waktu tertentu yang relatif singkat demi mengakomodir jalan tengah. Selanjutnya, terserah pengguna masing-masing.

Maaf, tulisan ini sama sekali bukan pengakuan dosa, pembelaan, atau bahkan upaya berkelit. Saya masih yakin ada benang merah antara konsep 'Page Speed', YSlow, dengan aksesibilitas Web. :)

Kurang lebihnya, mohon dikoreksi.

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

3 comments to "Cache, Skor Page Speed, YSlow, dan W3C Mobile"

  1. dani

    Saya pribadi terbiasa melakukan reload manual jika diperlukan. Menghapus cache juga manual (ctrl+shift+del semua, kecuali site preferences fx), karena beberapa kali memakai online banking.

  2. agung

    Hehe akhirnya keluar juga tulisan mengenai Page Speed, ya mungkin bukan pembelaan atau semacamnya, tapi menurut saya, mungkin biar tidak ada lagi yang komplain/protes tentang page speed itu :D

    Enakan dengan ponsel genggam jadul ini, untuk mendapatkan tulisan terbaru dari blog ini xixi..

  3. dani

    agung,
    protes atau komplain sih boleh-boleh saja. Tidak ada yang melarang. Kan kompromistik. Namanya juga belajar. :)