Kategori
Web Accessibility

Penulisan Elemen ABBR yang Aksesibel

Last updated on 12 November 2017 by Dani Iswara

Tag abbr atau abbreviation merupakan salah satu elemen X/HTML yang digunakan untuk menjelaskan suatu singkatan kata di konten Web.

Contoh:

<abbr lang="en" title="World Wide Web">WWW</abbr>
<abbr lang="id" title="Republik Indonesia">RI</abbr>
<abbr xml:lang="fr" title="Centre d'information et d'orientation">CIO</abbr>
<abbr title="Abbreviation">abbr.</abbr>
<abbr title="Association">assoc.</abbr>

Pemakaian tag ‘abbr’ dan ‘acronym’ kadang membingungkan. Ada beberapa pertimbangan pemakaian elemen ‘abbr’ agar menjadi relatif mudah diakses.

‘Abbr’ dan akronim yang membingungkan

Beberapa pengguna mengucapkan suatu singkatan dengan mengejanya per huruf, sebagai ‘abbreviation’, ‘initialism’, ‘contraction’ atau ‘truncation’. Yang lain mengucapkannya dengan satu kata biasa, sebagai ‘acronym’. Misalnya kata:

  • SARS untuk sindroma pernapasan akut yang parah atau ‘Severe Acute Respiratory Syndrome’. Singkatan ini kadang diucapkan sebagai satu kata.
  • HTML.
  • Puskesmas.

Belum lagi masalah tata bahasa dan budaya di tiap daerah dan negara yang memengaruhi.

Masalah lain pemakaian singkatan

Dengan bantuan CSS ‘aural’, fungsi ‘abbr’ bisa diperjelas. Misalnya:

@media aural { 
acronym, abbr.truncation { speak : normal }
abbr.initialism { speak : spell-out } 
}

Tapi, tipe CSS di atas tidak dikembangkan lagi oleh W3C.
Tampilan kursor saat ‘hover’ bisa diperoleh dengan CSS berikut:

abbr:hover { cursor : help }

Saat ini, penulisan ‘abbr’ dianggap lebih semantik dibanding acronym. Lihat contoh yang baik dari Panduan Standar Web dan Semantik versi 1.6 milik BBC (situs ‘broadcasting’). Tag ‘acronym’ juga tidak dipakai lagi di HTML5 yang sempat saya coba.

Tapi, peramban lawas seperti Internet Explorer versi 5 dan 6 hanya mampu membaca tag ‘acronym’, tidak untuk ‘abbr’. Kecuali memakai skrip ‘hacks’ tertentu. Pilihannya:

  1. menyajikan ‘acronym’ yang lebih dimengerti oleh semua peramban Web, tapi tidak semantik. Dianggap usang/’deprecated’ di standar X/HTML ke depan.
  2. konsisten dengan ‘abbr’. Semantik, tapi tidak sepenuhnya aksesibel untuk peramban lawas.
  3. memakai ‘abbr’ dengan tambahan perlakuan atau skrip khusus.
  4. tidak memakai ‘abbr’, tapi langsung menuliskan kepanjangan suatu singkatan apa adanya.
  5. menuliskan ‘abbr’ dan kepanjangannya sekaligus. Berisiko terjadi duplikasi.

Aksesibilitas abbr

Mas Adi – Rismaka menyatakan tentang penulisan elemen <abbr> yang terasa tidak aksesibel di peramban ‘mobile’. Komentarnya ada di tulisan Tinjauan Aksesibilitas Web tanpa CSS.

Mengenai atribut title pada ‘abbr’, menurut saya kurang aksesibel jika diakses dengan perangkat mobile seperti operamini. Saya kebetulan pernah mengikuti diskusi di blog ini dan mas cahya, dan pernah disodorkan singkatan. Saya pikir itu apa (karena ga ada keterangannya), setelah saya buka melalui peramban baru kelihatan kalau itu abbr bertitle

Masalahnya, jika suatu singkatan tidak disertai elemen–dalam hal ini tag–‘abbr’, pengguna sejenis pembaca teks layar komputer/’screen reader’ berbahasa Inggris akan kesulitan memahami konten. Bayangkan jika singkatan di bawah tidak diberi penjelasan:

  • ‘KISS’ untuk ‘keep it simple stupid’ (prinsip kesederhanaan di kebanyakan distribusi Linux) akan terdengar seperti pada ‘kiss…me’.
  • ‘BRA’ untuk ‘Bendara Raden Ajeng’ akan terdengar seperti ‘bra’ untuk penyangga payudara.
  • ‘TEN’ untuk ‘Toxic Epidermal Necrolysis’ (suatu penyakit kulit darurat yang dipicu oleh obat) akan terdengar seperti ‘ten’ yang menyatakan bilangan sepuluh. Atau mungkin terdengar sebagai ‘then’.

Beberapa pembaca teks layar komputer mungkin bisa mengeja atau mengenali jika singkatan berupa huruf kapital, akan dieja per huruf. Bukan dibaca sebagai satu kata.
Mengenai pemakaian titik di tiap huruf, penulisan singkatan di judul tulisan, dan penulisan gelar, sesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia yang dianjurkan.

Solusi

Menurut saya, prinsip pemakaian tag abbr atau singkatan kata:

  1. ingat bahwa belum tentu semua pengguna memahami singkatan yang kita pakai.
  2. setidaknya sebutkan/jelaskan singkatan di tiap awal pemunculannya pertama kali. Beri rujukan jika perlu.
  3. atribut ‘title’ tidak sepenuhnya mudah diakses.
  4. tag ‘abbr’ lebih semantik dibanding ‘acronym’.
  5. usahakan pemakaian ‘abbr’ dan teks biasa yang menjelaskan singkatan tidak duplikasi.
  6. jika memungkinkan, tulis saja kepanjangannya tanpa harus menyingkatnya.
  7. jika suatu singkatan akan sering diulang pemakaiannya, saat pertama kali muncul, sebutkan kepanjangannya, diikuti singkatannya beserta tag ‘abbr’ dan atribut ‘title’. Hindari pengulangan yang tidak perlu.

Misalnya:

  • Bahasa/kode/’markup’ penulisan simbol matematika (<abbr lang=”en” title=”Mathematical Markup Language”>MathML</abbr>)…Lihat kembali Menulis Matematika di Weblog WordPress dengan MathML.
  • Penyajian gambar vektor berbasis teks (<abbr lang=”en” title=”Scalable Vector Graphics”>SVG</abbr>) relatif lebih mudah diakses walau tampilan gambar dinonaktifkan. Baca kembali Mencoba SVG di peramban Firefox.
  • …rakyat muda yang berkarya atau Praja Muda Karana, disingkat Pramuka. Biasanya cukup dikenal lewat slogan “yang muda yang berkarya”.

10 tanggapan untuk “Penulisan Elemen ABBR yang Aksesibel”

Cahya,
untuk yang class, ya, jika dibutuhkan.

Untuk elemen ‘lang’, teorinya sih gitu, kan dialek bahasa berbeda-beda. Masalahnya, sudahkah ada rekaman suara/’voice’ berbahasa Indonesia yang ditanam di perangkat sejenis pembaca layar, sehingga pengucapan/lafalnya menjadi lebih mudah dimengerti? :)

aldy,
saya juga dulu masih sering campur aduk Pak Aldy. Bahwa abbr dan acronym itu memang beda dari sisi tatabahasa. Apalagi doctype tertentu memang masih memungkinkan untuk pemakaian acronym. cmiiw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.