Jika tidak ada Aksesibilitas Web

Noted: Wednesday, April 28, 2010 at 19:25:31. Words count: 465.
Last updated: Thursday, April 29, 2010 at 22:00:55.

Terbayang kondisi dahulu kala, mungkin masih hingga saat ini. Untuk menyajikan halaman demi halaman Web, diperlukan perlakuan khusus untuk tiap peramban Web versi desktop. 'Hacks' CSS untuk peramban Microsoft Internet Explorer tiap versi. Misalnya trik CSS spesial untuk versi 5, 5.5, 6, 7, 8, dan akan ada lagi? Dulu juga ada media CSS (dokumen W3C) untuk Braille, embossed, speech, projection, tty, tv, dan lainnya. Di zaman modern ini ternyata ada lagi perlakuan khusus untuk peranti iPhone, Blackberry, dan mungkin perangkat 'mobile' lain nantinya.

Konsep aksesibilitas Web relatif tidak terlalu dinamis. Jika algoritma mesin pencari/telusur seperti Google mulai memperhitungkan semantik dan kecepatan tayang suatu situs, bukankah memang itu rekomendasi 'best practices' W3C dari dulu? Apa jadinya jika rekomendasi Google bertentangan dengan anjuran aksesibilitas Web versi W3C?

Integrasi, independen, universal

Beberapa situs SEO luar negeri mulai mengintegrasikan aksesibilitas Web sebagai bagian SEO 'on-page' sejak sekitar tahun 2005-2007. Setidaknya jejaknya ada di Google. Lainnya mengungkapkan dalam bahasa berbeda yang cenderung nonteknis. Bahkan dikombinasikan atau kadang campur aduk dengan kebergunaan Web atau 'Web usability'.

Jika ditelusuri lebih lanjut, pelbagai teknik SEO 'on-page' dan kebergunaan Web itu memang masih terkait dengan aksesibilitas Web. Coba telusuri di Google tentang bagaimana mendesain Web bagi penyandang disleksia. Bahwa desain untuk disleksia ternyata memiliki banyak manfaat juga bagi pengguna lain pada umumnya.

Banyak kesamaan aspek yang memudahkan akses Web bagi penyandang tunanetra, gangguan penglihatan kontras warna, tunarungu, tunadaksa, hendaya kognitif, epilepsi, dan kondisi difabel lainnya. Tidak cukup itu saja, unsur aksesibilitas itu juga memudahkan pengguna lanjut usia, mesin pembaca layar komputer atau 'screen reader', peramban berbasis teks, berkoneksi Internet lambat, mesin pencari/telusur Internet, peramban 'mobile' dan alat bantu teknologi lain.

Membedakan pengguna berdasar perangkat yang digunakan? Perlakuan khusus untuk tiap media? Cukup dengan teknik yang terstandardisasi secara 'defacto', tapi terjangkau oleh pengguna yang lebih luas. Desain Web yang independen dan universal. Bukankah tidak mungkin memuaskan semua pengguna?

Tanggung jawab siapa?

Siapa yang membantu mengupayakan kesetaraan akses Web bagi pengguna dengan keterbatasan, kekurangan, dan kelebihan sesuai kondisi di atas? Bagaimana menghilangkan atau mengurangi batas-batas yang menghambat di dunia Internet? Serahkan pada desainer dan pengembang Web saja? Bukankah tiap orang berhak melakukannya?

Cukupkah dengan aksesibilitas Web saja? Tentu saja tidak. Aksesibilitas bukan Tuhan, bukan segalanya. Tapi itu hak azasi memperoleh akses informasi via Web. Sesuaikan dengan target pengguna. Pemakaian unsur aksesibilitas berlebihan pun tidak dianjurkan. Misalnya pemakaian atribut title, 'fancy tool tip', tabindex, elemen semantik seperti strong dan em, elemen kuotasi (blockquote dan q), sekadar teks warna-warni dan berukuran berbeda, atribut alt, kolom isian yang sudah berisi teks standar, elemen accesskey, dan hal aksesibilitas lain yang tidak sesuai konteks.

Menurut saya, semua pengguna Internet butuh aksesibilitas, dalam hal ini aksesibilitas Web. Karena tiap pengguna pada dasarnya punya keterbatasan. Pun akan menjadi orang yang lanjut usia. Atau sebaiknya lupakan saja?

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

8 comments to "Jika tidak ada Aksesibilitas Web"

  1. rismaka

    Mas dan, ada baiknya di blog ini atau pun yang di .net menautkan halaman2 yang berguna bagi pembaca terkait aksesibilitas dan kebergunaan. misal, definisi, perbedaan, implementasi sederhana, manfaat, dan lain sebagainya.

    Mungkin form pencarian bisa jadi jawaban mas dani, tapi ga setiap orang mau melakukannya. Permudahlah mereka mempelajari aksesibilitas. Bukankah kemudahan merupakan bagian dari aksesibilitas itu sendiri?

  2. dani

    rismaka,
    usul yang bagus, Mas Adi. Saya pernah melakukannya per topik. Jika ingin tahu lebih lanjut, menurut saya, langsung ke buku putihnya:
    WCAG 2.0 dan Techniques for WCAG 2.0.

    Bagaimana kalau Mas Adi yang membuatnya di blog Rismaka? :)

  3. rismaka

    Menurut saya jika targetnya adalah kebanyakan narablog dari Indonesia, lebih baik disampaikan dalam bahasa Indonesia, karena mereka pada umumnya lebih familiar dan juga lebih mau membaca jika kita sendiri yang menyampaikannya.

    Saya juga rencana ingin membahas topik ini, tapi ini juga sedang belajar. beda halnya dg mas dani yg sedikit lebih menguasai ttg hal ini. :)

  4. dani

    rismaka,
    sebenarnya saat bikin beberapa posting, saya sudah mikir bahwa tulisan ini akan dirujuk oleh tulisan saya berikutnya. Atau menjawab pertanyaan saya berikutnya yang akan muncul. Sehingga posting-nya bisa nyelip-nyelip ngga karuan. Ngga mungkin disajikan satu halaman sendiri. Sampai-sampai ngga nyadar, di beberapa tulisan, trackback-nya cuman dari saya sendiri. :lol:

    Jadi, saya persilakan temen-temen yang lain untuk melengkapi. Karena saya ngga narget siapa pembaca blog ini. Pokoknya catet. :)

  5. Cahya

    Kalau tidak aksesibilitas web, mungkin blog ini tidak ada :)

  6. aldy

    Andai saja sudah prefer masalah ini, mungkin tidak perlu ditawarkanpun saya akan melengkapinya dengan senang hati bli.
    Dengan pengetahuan yang emput-emputan begini, bukannya solusi yang keluar, masalah yang ada :oops:

  7. iskandaria

    Yang penting menyesuaikan dengan target pengguna/pengunjungnya saja kali ya.

  8. agung

    Lupakan saja ?
    karena ga mudeng mas hehe :D