Aksesibilitas Web Paragraf Pertama

Noted: Monday, April 26, 2010 at 21:53:46. Words count: 258.
Last updated: Sunday, November 12, 2017 at 21:48:14.

Beberapa kata di baris awal kalimat paragraf pertama memang bisa bermakna. Termasuk juga bagi aksesibilitas konten Web. Bukan, ini bukan tentang pengoptimalan mesin pencari/telusur Internet. Menuliskan kata kunci di awal paragraf karena 'plugin' tertentu yang dipakai? Menganggap algoritma 'Internet search engine' memberi perhatian lebih pada penempatan 'keywords' di paragraf awal? Sah saja.

Dari sisi kebergunaan Web atau 'Web usability', ide utama suatu tulisan atau karangan umumnya bisa dilihat di paragraf awal atau akhir. Pokok pikiran tiap paragraf biasanya bisa diketahui di kalimat awal atau akhir dari suatu blok teks atau paragraf. Bisa juga dibantu dengan penekanan atau 'emphasis' melalui pemakaian teks spesial yang bermakna semantik (Dani Iswara .com).

Mengapa paragraf awal juga penting dari sudut pandang 'Web accessibility'?

Paragraf awal dianjurkan mengandung suatu latar belakang masalah, contoh kasus, argumen, ilustrasi peristiwa, atau semacam titik awal pembicaraan yang memudahkan aliran penulisan. Alur tulisan pun bisa menjadi lebih logis jika kalimat akhir paragraf awal dan kalimat awal paragraf berikutnya memiliki keterkaitan.

Alur umum yang disebut di atas melihat dari cara baca dengan pola atas ke bawah. Dari arah kiri ke kanan atau kanan ke kiri. Masih terinspirasi dari gerakan Senin tanpa tetikus (Dani Iswara .com).

Untuk memahami suatu konten, lebih mudah jika ide utama disampaikan di awal kalimat paragraf pertama. Setelah klik 'skip to main content', judul dan paragraf awal yang deskriptif tentu akan sangat membantu pengguna. Daripada harus banyak menggulung di peramban berbasis teks atau berlayar kecil.

Jadi, tipe paragraf induktif yang menuliskan kalimat pokok di awal paragraf akan sangat membantu. Apalagi jika diterapkan di paragraf pertama.

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

13 comments to "Aksesibilitas Web Paragraf Pertama"

  1. agung

    Bagaimana jika kita akan menulis cerita bersambung?
    Penulisan kata bersambung, bersambung dan akhirnya tamat
    akan selalu dituliskan di akhir kalimatkah

  2. dani

    agung,
    menurut saya, untuk tulisan bersambung, lebih nyaman jika disampaikan tulisan tersebut seri keberapa dari sekian seri. Lalu berlanjut ke tulisan mana. Jika pengunjung datang bukan ke seri pertama, pengunjung diberi petunjuk mana seri sebelum dan sesudahnya.

  3. agung

    Sebagai pengguna, saya pribadi kurang begitu suka untuk mengikuti seri/bagian/part 1 dan seterusnya (asumsi saya seperti nonton sinetron hehe :D kelamaan sampai ada sesion 1, sesion2, dst…). Ini hanya pendapat saya sendiri saja lho.

  4. Cahya

    Ada yang bilang paragraf pertama sebaiknya tidak lebih dari 100 kata, menjadi sesuatu yang mendorong (mendobrak) ke arah konten selanjutnya. Tapi saya tidak begitu memperhatikan, setelah menyentuh papan ketik dan tetikus, semuanya mengalir begitu saja – kadang masa bodo dengan pembukaan atau-pun isi :D

  5. dani

    agung,
    atau lebih suka model paging kayak di tutorial perfect linux itu.

  6. dani

    Cahya,
    yang 100 kata itu mungkin terkait plugin. W3C menyarankan memakai Semantic Data Extractor. Walau semantik kadang bertentangan dengan aksesibilitas Web (terkait atribut title dan bookmarkable point).

  7. iskandaria

    Ini yang masih belum begitu diperhatikan oleh banyak narablog, terutama yang masih suka banyak basa-basi di awal (yang sebenarnya tidak terlalu penting). Bukan berarti basa-basi tidak baik lho, tapi jika malah mengaburkan esensi utama, ya bisa bikin pembaca agak lama dalam menangkap konsep/ide utama postingnya.

    Belakangan ini saya juga berusaha langsung masuk ke topik pada paragraf pertama. Tentunya tidak langsung mendeskripsikan semua ide. Isi paragraf pertama sebisa mungkin harus mendorong pembaca untuk meneruskan bacaan. Setidaknya punya korelasi yang kuat dengan judul posting yang kita buat.

  8. Cahya

    Tidak juga sih Bli, (memangnya ada ya plugin seperti itu). Saya sudah umum kalau 100 kata menjadi patokan (ha ha…, ilmu sesat … entah dapat dari mana).

    Kalau bookmarks sendiri biasanya memberikan jatah 250 kata malah. Kalau dari W3C tentunya harus memenuhi validitas terlebih dahulu kan?

  9. dani

    iskandaria,
    ya ada juga yang merasa tidak perlu membuka semuanya di awal.

    Cahya,
    kayaknya ngga harus valid dulu kok.

  10. Joko

    Selain pemilihan judul yang menarik, saya setuju paragraf pertama sangat menentukan apakah sebuah artikel cukup menarik atau tidak untuk diteruskan dibaca. Ini berlaku buat dua tujuan, pengunjung manusia dan pengunjung mesin SE. Jadi sebisa mungkin kata kunci yang dibidik ada disitu, serta memberikan kata-kata yang menarik perhatian pembaca di awal paragraf.

    Demikian kalau nggak salah salah satu pelajaran SEO dan juga pelajaran dalam teknik menulis yang baik. He2

    Contoh, bukankah kalau kita melink artikel blog dari Facebook, kalimat pada paragraf pertama ini juga yang dipreview sebagian? Jadi bagaimana jadinya kalau apa yang muncul itu bukan kalimat yang menarik?

  11. dani

    Joko Sutarto,
    entah benar/tidak algoritma mesin pencari/telusur seperti yang dipercaya saat ini… :)

  12. rismaka

    Yang paling utama adalah Judul. Ia harus bisa menunjukan garis besar apa2 yang tertulis dalam sebuah tulisan. Mengenai deskripsi pendek di paragraf pertama, itu tergantung dari tema tulisan yang diangkat. Tidak semua harus dideskripsikan di awal. Contohnya mengenai sebuah kisah yang dapat membuat pembaca penasaran. Di kisah itu tentu tidak akan dijelaskan intisarinya, bukan? Karena jika sudah disebutkan, maka pembaca pun tidak lagi penasaran.

  13. dani

    rismaka,
    di tulisan sebelumnya saya juga menulis yang senada:

    Di Web, pengguna melakukan scanning informasi, membaca cepat. Bukan membaca huruf demi huruf atau kata demi kata. Kecuali saat berhadapan dengan sajak, puisi, dan karya sastra sejenis.
    Dikutip dari: Hubungan Kebergunaan dan Aksesibilitas Konten Web.