Mengomentari Konten Blog

Noted: Tuesday, June 29, 2010 at 15:15:31. Words count: 168.
Last updated: Saturday, July 31, 2010 at 11:47:59.

Tidak harus menjadi pengomentar, kan? Ada visi dan misi di balik komentar? Sah saja. Membalas kunjungan blog? Silakan saja.

Respons berikut biasa saya pakai saat menjadi pengomentar blog.

  1. Menanggapi dari sudut pandang berbeda. Seringnya berbasis aksesibilitas Web. Karena sifatnya yang universal.
  2. Bertanya. Mempertanyakan sumber tulisan. Pendapat sendiri? Saduran? Ada dukungan pendapat lain? Diusahakan baca dulu referensi yang dipakai. Baru komentar. Kadang ada saduran dari bahasa Inggris, tapi tidak mencantumkan sumber dengan jujur. Atau mempertanyakan pendapat penyaji konten terkait yang dipublikasikannya.
  3. Paling gatal jika menyangkut pengoptimalan mesin pencari/telusur Internet atau SEO. Pertanyaan 'dejavu' berpeluang sering muncul. :) Apakah teks spesial yang tercetak tebal/miring/bergaris bawah–padahal tidak bisa diklik–berulang-ulang itu benar-benar (masih) efektif dan efisien? Masih pakai atribut title untuk pengoptimalan? Apakah memang ada buku panduan yang menyarankannya? Baca juga SEO may Destroy Web Usability-Accessibility (Dani Iswara .com).

Diperbarui pukul 6.50 malam hari yang sama: terinspirasi dari tulisan panjang berjudul Memengaruhi dengan Paradigma FOSS dari Ade Malsasa (ademalsasa.co.cc). Sial, saya kesulitan komentar di sana! :)

Dani Iswara, [myfirstnamelastname]@gmail.com.

unEssential.

14 comments to "Mengomentari Konten Blog"

  1. PF

    Bli Dani,
    Setiap user memiliki kemampuan dan keinginan yang berbeda, ada yang mencoba dengan jujur mengungkapkan asal usul materi, ada yang abu-abu dan ada yang tidak.
    Menurut saya sih, pengomentar sebaiknya mengomentari hanya terbatas pada kemampuannya atau kalau perlu bertanya saja :D

  2. Cahya

    Saya tidak mampu mengomentari tulisan ini karena tentang sisi personal si pemilik blog. Monggo Bli, setiap masukan itu bernilai kan :) – kecuali spam.

  3. ardianzzz

    Apakah ini berkaitan dengan banyaknya orang yang “takut” berkomentar disini hehe :)
    Terkadang saya membaca suatu konten yang kurang menarik untuk dikomentari, tetapi komentar-komentar yang masuk lebih menarik jadi daripada tidak ngapa-ngapain ikut nimbrung diskusi saja, sekalian ninggal jejak haha..
    Kalau saya bukan paling gatal, tetapi paling malas membaca artikel tentang SEO biasanya sudah basi soalnya :P

  4. dani

    PF,
    ya model bertanya. Itu juga bisa. Saya sunting di atas. Terima kasih, Pak Aldy.

    Cahya,
    walau sisi personal, kan bisa balas mengungkapkan sisi personal pengomentar juga?

    ardianzzz,
    karena ketakutan calon pengomentar itu? Seperti yang Mas Adi–Rismaka tulis? :D Bukan, sudah saya sunting di atas. Tadi koneksi terputus dengan sukses. :(

    Yang basi belum tentu tidak berguna. Makanan yang memakai peragian, misal tapai/tape, tempe, oncom, enak juga kan? :)

  5. ardianzzzz

    Hahaha.. Peuyeum mah bukan makanan basi Bli Dani :)
    Maksudnya adalah saya sering sekali menjumpai konten hasil copas. Menyadur itu boleh tetapi kita tahu ada prosedurnya kan :)

  6. dani

    ardianzzz,
    itu masuk makanan fermentasi (Wikipedia). :)

    Jadi, kita tutup mata saja ya.

  7. Cahya

    Sisi personal saya inclusive Bli, gimana bisa dibuka coba untuk tipe orang yang introvert :D

  8. dani

    Cahya,
    berkepribadian cenderung tertutup pun biasanya ada kompensasinya. Sehingga malah akan relatif terbuka di beberapa sifat. :D

  9. Logisnya Konten via Emulator Screen Reader – Unessential Weblog

    […] uji coba kali ini, tulisan Mengomentari Konten Blog (Dani Iswara .com) dijadikan […]

  10. Ade Malsasa Akbar

    Terima kasih Pak Dani, atas komentar yang banyak. Duh, saya sangat senang. Terima kasih telah menyadarkan saya akan banyaknya pengguna yang kurang beruntung membaca blog kita dengan screen reader (sekarang saya meniru bapak, memakai tag “”). Saya sebenarnya sudah tahu dari dulu (makanya tidak suka menyingkat) tetapi karena saya pesimis blog saya itu akan jarang dikunjungi orang ya, jadi kurang saya perhatikan.

    Sudah saya tambahkan fitur untuk berlangganan komentar via surel, Pak. Selama ini saya tidak mau memasang umpan RSS (dari FeedBurner atau lainnya) karena saya sadar bahwa saya ini tidak (bisa) rajin menerbitkan tulisan. Ya, karena terbatasnya koneksi internet itu tadi. Terima kasih atas semua perhatian dan peringatan yang bapak beri.

    Saya juga mengerti hendaya kognitif sekarang. Soal kamus, dan tabel saya itu, akan segera saya perbaiki. Terima kasih lagi atas komentar dan perhatian bapak di sana.

    Aduh, terima kasih sekali atas posting ini dan apresiasinya. Senang mengenal Pak Dani.

    Jarang deh, ada orang lebih tua yang mau dikoreksi, sampai bilang “…jangan segan…” seperti bapak. Siap! Kita saling koreksi ya, Pak? Selama ini saya diam saja di milis Linux/lainnya melihat banyaknya orang menulis singkatan (membuatnya lebih TIDAK BISA DIBACA) karena saya malu. Nanti malah dianggap sok tahu, sok pintar, dan sebagainya. Tetapi kalau sudah diberitahu begitu, saya akan mencoba. Maaf ya, Pak kalau kata-kata saya ada yang menyakitkan?

    Salam hangat dan jabat erat, Pak!

  11. dani

    Ade Malsasa Akbar,
    berarti situ juga termasuk penyandang disabilitas koneksi Internet. Sama dong!

  12. kawas@blogmagis.com

    komentar banyak manfaat, backlink, network, dan seterusnya.

  13. dani

    kawas,
    maksudnya, komentar itu banyak manfaatnya. Untuk ‘backlink’, ‘network’, dan seterusnya. Itu maksudnya ya?

  14. Etika Berkomentar (di blog ini) | Rudy Azhar

    […] bukan aturan baku yang mesti Anda turuti, ini sekedar saran jika Anda ingin mengomentari konten Blog. Jujur…. Saya juga bukan pemberi komentar yang baik, tapi tidak ada salahnya kalau komentar […]

Leave comment


All XHTML markups will be held for moderation. Keep on topic, please.