<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Legalitas Aksesibilitas Web</title>
	<atom:link href="http://daniiswara.com/2010/04/legalitas-aksesibilitas-web/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://daniiswara.com/2010/04/legalitas-aksesibilitas-web/</link>
	<description>unnecessary note</description>
	<lastBuildDate>Thu, 03 May 2012 22:55:24 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=</generator>
	<item>
		<title>By: dani</title>
		<link>http://daniiswara.com/2010/04/legalitas-aksesibilitas-web/#comment-186</link>
		<dc:creator>dani</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 04:01:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://daniiswara.com/?p=326#comment-186</guid>
		<description>Anis Fahrunisa,
sedikit koreksi, terkait yang Mas Anis sampaikan di atas, untuk aksesibilitas dipakai istilah &lt;strong&gt;checker&lt;/strong&gt;, bukan &lt;em&gt;validator&lt;/em&gt;. Serupa seperti usability, lebih pas jika dites langsung pada manusianya. Terutama terkait grafis dan kesesuaian konten multimedia.

Walau &#039;best practice&#039; selama ini juga dianggap cukup mewakili kebutuhan pengguna yang universal.

Penting ngga pentingnya, silakan dimulai masing-masing aja deh. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Anis Fahrunisa,<br />
sedikit koreksi, terkait yang Mas Anis sampaikan di atas, untuk aksesibilitas dipakai istilah <strong>checker</strong>, bukan <em>validator</em>. Serupa seperti usability, lebih pas jika dites langsung pada manusianya. Terutama terkait grafis dan kesesuaian konten multimedia.</p>
<p>Walau &#8216;best practice&#8217; selama ini juga dianggap cukup mewakili kebutuhan pengguna yang universal.</p>
<p>Penting ngga pentingnya, silakan dimulai masing-masing aja deh. :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Anis Fahrunisa</title>
		<link>http://daniiswara.com/2010/04/legalitas-aksesibilitas-web/#comment-185</link>
		<dc:creator>Anis Fahrunisa</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 03:29:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://daniiswara.com/?p=326#comment-185</guid>
		<description>Sementara untuk mengecek aksesibilitas saya hanya menggunakan tool-tool online (salah satunya ATRC Accessibility Checker seperti yang pernah Mas Dani sebutkan). Saya sependapat bahwa memvalidasi aksesibilitas atas dasar tool-tool online saja itu belum cukup dan bisa menjadi mitos (seperti yang Mas Dani ungkapkan pada posting di daniiswara.net &quot;Mitos Aksesibilitas Web-Blog&quot;). 

Bagaimanapun (menurut saya) sebuah tool adalah mesin yang terkadang bisa memiliki penilain berbeda dengan orang yang benar-benar difabel. Jadi pengukuran sebenarnya (dan ini saya kira cukup objektif) harus diserahkan pada pengguna (bukan mesin). Mungkin tidak ada salahnya (untuk meningkatkan sisi aksesibilitas web/blog), kita secara eksplisit memberitahukan/meminta kepada pembaca (difabel) untuk membuat catatan kepada si webmaster bagian-bagian mana yang tidak aksesibel (dari perspektif mereka sendiri). 

Apabila suatu saat aksesibilitas telah menjadi hukum legal di negara kita,  mungkin tidak akan ada lagi (blogger, desainer web, webmaster) yang berpendapat bahwa hal ini semata-mata persoalan teknis yang tidak memberikan nilai signifikan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sementara untuk mengecek aksesibilitas saya hanya menggunakan tool-tool online (salah satunya ATRC Accessibility Checker seperti yang pernah Mas Dani sebutkan). Saya sependapat bahwa memvalidasi aksesibilitas atas dasar tool-tool online saja itu belum cukup dan bisa menjadi mitos (seperti yang Mas Dani ungkapkan pada posting di daniiswara.net &#8220;Mitos Aksesibilitas Web-Blog&#8221;). </p>
<p>Bagaimanapun (menurut saya) sebuah tool adalah mesin yang terkadang bisa memiliki penilain berbeda dengan orang yang benar-benar difabel. Jadi pengukuran sebenarnya (dan ini saya kira cukup objektif) harus diserahkan pada pengguna (bukan mesin). Mungkin tidak ada salahnya (untuk meningkatkan sisi aksesibilitas web/blog), kita secara eksplisit memberitahukan/meminta kepada pembaca (difabel) untuk membuat catatan kepada si webmaster bagian-bagian mana yang tidak aksesibel (dari perspektif mereka sendiri). </p>
<p>Apabila suatu saat aksesibilitas telah menjadi hukum legal di negara kita,  mungkin tidak akan ada lagi (blogger, desainer web, webmaster) yang berpendapat bahwa hal ini semata-mata persoalan teknis yang tidak memberikan nilai signifikan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

